INFO KEMITRAAN

Info aneka kebutuhan barang Anda, klik tautannya di sini Showcase Fendy Sy. Citrawarga. https://vt.tiktok.com/ZS6f5nX7Y/?page=Mall

Sabtu, 18 Juli 2020

Pesan Antirasis dalam Islam Sejak 14 Abad Lalu (2)


Ilustrasi muslim./pexels/by rm/via viva

SEPERTI halnya gerakan revolusioner lain, Islam awalnya menghadapi perlawanan sengit dari banyak elite.

Suku Quraisy, misalnya, yang mengendalikan perdagangan di Mekah – bisnis yang sangat menguntungkan bagi mereka, tidak mau melepas gaya hidup nyaman yang mereka bangun di atas punggung orang lain, terutama budak yang mereka bawa dari Afrika.

Pesan Nabi tentang egalitarianisme cenderung menarik bagi “orang-orang yang tidak diinginkan” – orang-orang dari masyarakat pinggiran.

Umat Islam awal mencakup pemuda-pemuda dari suku yang kurang berpengaruh yang ingin lepas dari stigma dan budak-budak yang dijanjikan pembebasan dengan memeluk Islam.

Perempuan, yang dinyatakan setara dengan laki-laki di Alquran, juga menganggap pesan Muhammad sangat menarik. Namun, potensi kesetaraan gender dalam Islam kemudian akan dikompromikan oleh kebangkitan masyarakat patriarki.

Pada saat Nabi Muhammad wafat pada 632 H, Islam telah membawa transformasi mendasar bagi masyarakat Arab, meski tidak pernah sepenuhnya menghapus hirarki kesukuan di wilayah ini.

Lepas dari derita

Pada awalnya, Islam juga menjadi daya tarik bagi orang non-Arab, orang luar yang tidak punya banyak pengaruh dalam masyarakat tradisional Arab.

Ini termasuk Salman al-Farisi yang melakukan perjalanan ke semenanjung Arab untuk mencari kebenaran religius, Shuhaib ar-Rumi seorang pedagang, dan seorang budak dari Ethiopia yang bernama Bilal.

Ketiganya menjadi terkenal dalam Islam selama masa hidup Muhammad. Kekayaan Bilal yang jauh membaik menggambarkan bagaimana egalitarianisme yang diberitakan oleh Islam mengubah masyarakat Arab.

Sebagai seorang hamba yang diperbudak seorang aristokrat Mekah bernama Umayya, Bilal dianiaya oleh pemiliknya karena memeluk agama baru.

Umayya meletakkan batu di dada Bilal, mencoba mencekiknya sampai ia bersedia meninggalkan Islam.

Tergerak oleh penderitaan Bilal, teman Muhammad sekaligus orang kepercayaannya Abu Bakar yang akan memimpin masyarakat Muslim setelah kematian Nabi, membebaskannya.

Bilal sangat dekat dengan Muhammad. Pada 622, Nabi menunjuknya sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan sebagai pengakuan atas suaranya yang kuat dan indah dan kesalehannya.

Bilal kemudian menikahi seorang perempuan Arab dari suku yang terhormat, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang Afrika yang diperbudak pada periode pra-Islam.

Black lives matter

Bagi banyak orang Muslim modern, Bilal adalah simbol pesan egaliter Islam, yang dalam penerapan idealnya mengakui tidak ada perbedaan di antara manusia atas dasar etnis atau ras, tapi lebih mengutamakan integritas pribadi.

Salah satu surat kabar milik orang Muslim kulit hitam terkemuka di Amerika Serikat, yang diterbitkan antara tahun 1975 dan 1981, dinamai The Bilalian News.

Baru-baru ini Yasir Qadhi, Dekan Islamic Seminary of America, di Texas, mengatakan bahwa Muslim Amerika – kelompok yang akrab dengan diskriminasi – “harus memerangi rasisme, apakah itu dengan pendidikan atau dengan cara lain.”

Banyak Muslim di AS mengambil tindakan, mendukung gerakan Black Lives Matter, dan memprotes kebrutalan polisi dan rasisme sistemis.

Tindakan mereka mencerminkan pesan egaliter revolusioner – dan masih belum terwujud – yang ditetapkan Nabi Muhammad lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai landasan iman Islam.

Tindakan mereka mencerminkan pesan egaliter revolusioner – dan masih belum terwujud – yang ditetapkan Nabi Muhammad lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai landasan iman Islam. (Asma Afsaruddin, Professor of Islamic Studies and former Chairperson, Department of Middle Eastern Languages and Cultures, Indiana University). Sumber asli artikel ini dari The Conversation/Sumber situs: Voxpop Indonesia. @fen


Jumat, 17 Juli 2020

Pesan Antirasis dalam Islam Sejak 14 Abad Lalu (1)

Ilustrasi muslim./pexels/by rm/via viva

SUATU hari di Mekah, Nabi Muhammad saw. menyampaikan pernyataan mengejutkan kepada pengikutnya: Dia mengatakan kepada mereka bahwa semua orang diciptakan sama.

“Semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa,” kata Muhammad dalam khotbah publik terakhirnya.

“Orang Arab tidak lebih unggul dibandingkan non-Arab. Dan non-Arab tidak lebih unggul dibandingkan orang Arab. Kulit putih tidak lebih unggul dari kulit hitam, dan kulit hitam tidak lebih unggul dari kulit putih, kecuali atas sikap dan perbuatan yang baik.”

Dalam khotbah saat Haji Wada (Perpisahan) ini, yang dikenal sebagai "Khotbah Perpisahan", Muhammad menjabarkan dasar cita-cita religius dan etika Islam dalam agama yang ia mulai syiarkan pada awal abad ke-7.

Kesetaraan ras adalah salah satunya. Kata-kata Muhammad menyentak masyarakat yang terbagi atas berbagai suku dan etnis.

Sekarang, ketegangan rasial dan kekerasan memanas di Amerika Serikat (AS), dan menyebar ke seluruh dunia.

Di dunia hari ini (beberapa waktu lalu, red.), pesan Muhammad terlihat untuk menciptakan mandat moral dan etika khusus untuk Muslim Amerika untuk mendukung gerakan protes anti-rasisme negara itu.

Menantang kekerabatan

Selain monoteisme (menyembah hanya satu Tuhan), kepercayaan pada kesetaraan semua umat manusia di mata Tuhan juga membuat umat Islam awal berbeda dari sesama Arab di Mekah.

Surat Al Hujurat (49), ayat 13 dalam Alquran, menyatakan: 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu…dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."

Ayat ini menentang banyak nilai-nilai masyarakat Arab pra-Islam yang memiliki kesenjangan sosial berdasarkan keanggotaan suku, kekerabatan, dan kekayaan sebagai bagian dari kehidupan.

Kekerabatan atau keturunan (dalam bahasa Arab disebut “nasab”) adalah penentu utama status sosial seseorang.

Anggota suku yang lebih besar dan lebih menonjol seperti Quraisy memiliki kedudukan yang tinggi, sedangkan orang-orang dari suku yang kurang kaya seperti Khazraj memiliki kedudukan lebih rendah.

Alquran mengatakan bahwa kesalehan dan perbuatan pribadi adalah dasar dari nilai baik, bukan afiliasi suku – ini adalah pesan asing yang berpotensi mengacaukan masyarakat berdiri berdasarkan nasab. (bersambung) (@fen) **

Selasa, 14 Juli 2020

KISWAH (Kisah dan Uswah) Bag. 2: Permintaan Iblis untuk Balas Dendam

Dikisah ulang oleh Fendy Sy. Citrawarga

SANGKAAN iblis membangkang itu tanda kemenangan dan bakal mendapat sanjungan dari Allah.

Padahal diusir agar pergi, dihalau supaya menjauh dari sorga, tempat yang sarat kenikmatan.

Oleh karena itu tidak pantas iblis menempati sorga nan suci.

"Enyahlah engkau!" seperti itulah barangkali Allah menyuruh iblis pergi, si makhluk terkutuk karena tidak mau bersujud terhadap ketentuan hukum, inkar terhadap perintah Allah yaitu berujud kepada  Adam.

Akhirnya tak bisa apa-apa, walaupun merasa nyaman dan kerasan tinggal di tempat yang serbanikmat, iblis harus pegi. 

Hanya saja, dia merasa disakiti, dibuat tak nyaman lantaran si Adam.

Tak menunggu waktu lama, sebelum dia pergi meninggalkan sorga, iblis meminta sesuatu kepada Allah yang intinya untuk balas dendam kepada Adam. 

Barangkali yang terpikirkan oleh iblis, mengapa dirinya harus pergi dari sorga tetapi si Adam dibiarkan hidup nyaman dalam sorga?

Si iblis merasa teraniaya oleh Yang Maha Kuasa pemilik sorga. Padahal tetu saja apa yang menimpa dirinya semata-mata karena ulah dirinya sendiri.

Ya, akibat perbuatannya sendiri. Bukankah ada ungkapan ratu takkan menghukum, raja takkan mendakwa, keuali perilaku sendirilah yang bisa mencelakakan.

"Ya Tuhan, saya rela harus hengkang dari sorga. Namun ada permintaan," ujar iblis kepada Allah SWT.
"Apa permintaan kamu?"
"Saya dan keturunan saya ingin dipanjangkan umur hingga hari kiamat."
"Ya, apa yang kau minta akan Kuberikan. Namun tempat kembali kamu kelak, takkan ke mana-mana, tetapi ke neraka."
"Selain itu ya Tuhanku, izinkanlah aku menggoda Adam dan anak cucunya serta keturunannya agar mereka tunduk dan taat terhadap perintah serta ajakan aku agar kelak mereka menjadi teman kami di neraka."

"Silakan!  Barangsiapa  di antara manusia yang ikut kepada kamu, tempat kembalinya nanti neraka jahanam bersatu bersama teman-teman kamu!"

Akhirnya iblis menerima ketentuan tersebut. Sejak saat itu juga iblis sudah punya rencana-rencana busuk bagaimana caranya agar Adam pun hengkang dari sorga seperti dirinya. (bersambung)
______________

PANGAN (Pantun Renungan)

"Bawa besi bawa linggis,
dalam peti ada nangka.
Awasi godaan iblis,
pasti nyuruh ke neraka." **

Minggu, 12 Juli 2020

PAGI (Pantun Religi): I m a n


- "MAGRIB-magrib naik delman,
kehujanan basah kuyup.
Kita wajib punya iman,
sebab iman dasar hidup."
+ Ya, dasar hidup bagi muslim.

- "Ketupat makan ketupat,
dimakannya waktu subuh.
Iman kuat pasti taat,
iman rapuh pasti jauh."
+ Ya, jauh dari Allah.

- "Naik delman jalan turun,
takut jatuh ke telaga.
Iman itu naik turun,
makanya wajib dijaga."
+ Ya, dijaga jangan turun.

- "Di pasar banyak si Engkoh,
pagi-pagi makan ketan.
Biar iman tetap kokoh,
jauhi godaan setan."
+ Ya,  sebab setan musuh nyata.

- " Kelinci ada di atap,
dalam gelas ada jamu.
Kunci iman tetap mantap,
jangan malas tolab ilmu."
+ Ya, iman tanpa ilmu mudah rapuh.

#1372020, pantun-pantun religi koleksi fendy sy. citrawarga# ***


KISWAH (Kisah dan Uswah) Bag. 1: Ketika Iblis Ogah Bersujud kepada Adam

Ilustrasi Kakbah./net.

Dikisah ulang oleh Fendy  Sy. Citrawarga

MANUSIA pertama yang diciptakan oleh Allah SWT adalah Adam.

Dia diiciptakan dari saripati tanah yang kemudian dimasukkan ruh yang akhirnya menjadi makhluk yang berwujud manusia sempurna dan oleh Allah SWT diberi nama Adam.

Sebelumnya, Allah pun telah menciptakan makhluk lainnya yaitu malaikat dan jin serta iblis.

Malaikat diciptakan dari "nur" atau cahaya, sedangkan iblis diciptakan dari api.
Dua makhluk tersebt memiliki karakter dan tabiat yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Bayangkan, malaikat memiliki sifat dan tabiat nan kudus, suci, tak memiliki napsu syahwat demikian pula makan dan minum juga para malaikat tidak suka. Pekerjaan  para malaikat selamanya hanya untuk berbakti menunaikan titah beribadah dari Allah SWT.

Adapun iblis, makhluk kotor sebab sifat dan tabiatnya sombong serta pembangkang kelas tinggi, penolak telak, senantiasa mengerjakan kedurhakaan kepada Allah. Kiranya pantas karena di iblis itulah adanya nafsu syahwat angkara murka. Iblis juga punya nafsu berahi sehingga mereka pun beranak-pinak, berketurunan sebagaimana manusia.

Setelah Adam diciptakan oleh Allah SWT, malaikat dan iblis dipanggil olehNya. Tak lain keduanya agar sujud kepada makhluk ciptaan baru penghuni surga, yaitu Adam.

Sesuai sifat dan tabiatnya, para malaikat bersisujud sebagaimana yang diperintahkan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Lain halnya dengan si sombong iblis, dia mah membangkang, tak mau bersujud.

Mengapa? Ternyata iblis punya andalan yang kalau menurut orang Sunda mah "rasa manĂ©h uyah kidul" alias  sombong. Mengapa demikian? Karena dia merasa lebih mulia daripada tanah sebagai "bahan baku" penciptaan Adam, sedangkan iblis diciptakan dari api.

"Ogah, ngapain gue harus sujud kepada si Adam? Nehi, nehi!" Begitulah barangkali ucapan iblis saat itu. (bersambung)
_______________

PANGAN (Pantun Renungan)

"Belanja bawa telombong,
telombong punya Pak Ulis.
Manusia jangan sombong,
yang sombong mah itu iblis."
**

Jumat, 10 Juli 2020

Penyelenggaraan Salat Iduladha, Menko PMK Harap Tidak Ada Kluster Penularan

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memimpin rapat terbatas membahas persiapan penyelenggaraan Iduladha./kemenag.go.id

Ikut-dakwah.blogspot.com -  Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy berharap penyelenggaraan Salat Iduladha dapat diselenggarakan sesuai protokol kesehatan sehingga tidak menimbulkan cluster baru penyebaran Covid-19.

“Kita harap pelaksanaan Salat Iduladha bisa lebih baik, terawasi, aman, dan diusahakan jangan sampe ada cluster akibat dari penyelenggaraan Salat Iduladha,” kata Muhadjir usai memimpin rapat terbatas persiapan penyelenggaraan Iduladha dan pemotongan hewan kurban yang dilakukan secara teleconference, di Jakarta, Kamis (9/7), seperti dilansir kemenag.go.id.

Menurut Muhajir, Salat Iduladha serta penyembelihan hewan kurban, secara nasional, diputuskan boleh digelar dengan memperhatikan status zona dan intensitas penyebaran Covid-19 yang ditetapkan gugus tugas nasional. Landasan penetapan zona itu adalah informasi yang detail dari gugus tugas sampai pada level terkecil di tiap zona. 

“Maksudnya gini, ada zona secara wilayah dikatakan merah, tetapi sebetulnya ada desa-desa di wilayah itu yang sebetulnya aman / hijau, yang tahu zona itu adalah gugus tugas daerah. Gugus tugas daerah nanti yang akan merekomendasikan. Ada juga daerah yang secara wilayah hijau, tetapi sebetulnya ada desa-desa tertentu bahkan kecamatan yang statusnya adalah merah. Yang itu yang mengetahui adalah BNPD atau gugus tugas di daerah itu,” tuturnya.

Karena itu, lanjut Menko PMK, kerja sama antara pihak penyelenggara dengan gugus tugas daerah, Polri, dan Pemda sangat penting. Aparat Kemenag juga akan dikerahkan untuk melakukan pemantauan sekaligus memberikan arahan. (@fen) **

Rabu, 08 Juli 2020

Lima Macam Sabar Dalam Islam


Ilustrasi./brilio.net/ist.

SABAR (al shabru) menurut bahasa berarti menahan dan mengekang. Menurut M. Quraish Shihab, sabar adalah menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik.

Adapun macam-macam sabar antara lain:

1. Sabar dalam menaati Allah.

Sabar dalam ketaatan dibuktikan dengan kesungguhan untuk menjalankan segala perintah Allah SWT, baik perintah secara tegas maupun yang sifatnya anjuran. Misalnya, ketika kita sedang dalam keadaan tidur nyenyak, bersabarlah untuk bangun di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan salat tahajud.

Sebagaimana firman Allah SWT: 

“Dan pada sebahagian malam salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra: 79).

2. Sabar dalam beribadah

Sabar dalam mengerjakan ibadah ialah dengan tekun mengendalikan diri dalam melaksanakan syarat-syarat dan tata tertib ibadah, tidak tergesa-gesa. 

Menurut Iman Ghozali, dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan tiga hal, yaitu:

- Sebelum melakukan ibadah harus dipersiapkan dengan niat suci/ikhlas semata-mata beribadah karena taat kepada Allah (tidak ada niat lain).

- Pada saat melakukan ibadah harus memenuhi syarat-syarat dan tata tertibnya.

- Sesudah selesai beribadah yaitu jangan bersikap riya.

3. Sabar dalam menjauhi maksiat

Sabar dalam hal ini terwujud dengan upaya meninggalkan maksiat secara total tidak sekemampuan. 

Rasulullah saw memberi penekanan: "...dan jika aku melarang kamu untuk melakukan sesuatu, maka tinggalkan."

4. Sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah

Menurut bentuknya, takdir ada dua macam, yaitu takdir yang baik dan takdir yang buruk. Kehidupan manusia di dunia ini tidak terlepas dari ketentuan takdir. Setiap manusia di alam dunia ini akan menghadapi banyak persoalan, berbagai macam rintangan, dan bermacam masalah dalam kehidupan.

5. Sabar dalam menghadapi musibah

Dalam menjalani kehidupan, manusia pasti akan menghadapi berbagai cobaan. Baik yang menimpa jiwa, harta, maupun keluarga. Allah menjadikan jalan keluar bagi orang muslim berupa kesabaran. Berani menatap masa depannya dengan rasa optimistis.

Itulah macam-macam kesabaran menurut Islam yang harus kita ketahui dan dilaksanakan tentunya agar meraih kebahagiaan dan keselamatan baik di dunia maupun akhirat. @fen/brilio.net