INFO KEMITRAAN

Info aneka kebutuhan barang Anda, klik tautannya di sini Showcase Fendy Sy. Citrawarga. https://vt.tiktok.com/ZS6f5nX7Y/?page=Mall
Tampilkan postingan dengan label #khutbah jumat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #khutbah jumat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2020

KHUTBAH JUMAT: Memetik Nilai Positif dari Pandemi Corona#


KITA telah mengalami hidup dalam keadaan khawatir dan tidak bebas karena wabah corona berbulan-bulan. Sekolah dan madrasah ditutup. Salat jumat dan jemaah sehari-hari berlangsung tidak seperti biasanya. Semoga Allah Azza wa Jallam segera mengangkat wabah ini.

Kita ucapkan segala puji bagi Allah yang semua takdir yang Dia tetapkan adalah baik. Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Quran Al-Hadid: 22)

Dan juga terdapat dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Yahya Suhaib ar-Rumi, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim).

Oleh karena itu, hal yang seharusnya kita lakukan adalah mengambil nilai-nilai positif dari semua kejadian dalam kehidupan kita. Termasuk dari wabah yang mematikan ini. Yang menimpa kita sekarang. Di antara nilai-nilai positif yang bisa kita ambil adalah:

Pertama: Semakin rekatnya hubungan dengan pasangan kita dan dengan anak-anak kita.

Selama ini ayah sibuk dengan pekerjaannya. Sementara anak-anak sibuk dengan sosial media dan teman-temannya. Sekarang mereka berada di rumah. Intensitas pertemuan antara keluarga meningkat sehingga semakin rekatlah hubungan. Sedikitnya pertemuan antara orang tua dan anak tentu berdampak pada kualitas hubungan. Berdampak juga pada pendidikan dan karakter anak. 

Seringnya orang tua bertemu dengan anaknya tentu akan membuat anak merasakan kehadiran ayah. Mentalnya menjadi lebih positif. Berangkat dari sana, muncullah generasi yang positif pula. Generasi yang terbimbing dengan akhlak dan kasih sayang. Karena akhlak adalah sesuatu yang utama dalam Islam. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad).

Dan juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ

“Sesungguhnya malu adalah bagian dari iman.” (HR al-Bukhari).

Kedua: Kita bersemangat untuk tetap mengamalkan ajaran agama yang sebelum wabah kita kerjakan. Seperti tetap menjaga salat berjemaah. Menjaga salat sunah rawatib dan witir. Tetap merutinkan zikir pagi dan petang. Dan amalan-amalan lainnya.

Kita juga perhatikan keluarga kita untuk mengerjakan kewajiban sesuai dengan kadar yang dituntut oleh syariat. Karena orang tua, terutama ayah, akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Quran At-Tahrim: 6)

Kita ingatkan anak-anak kita dengan nasihat dan motivasi. Kalau sebelumnya sang ayah kurang dalam melakukan ini, maka manfaatkanlah masa-masa seperti sekarang ini.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Quran Al-Hasyr: 18)

Allah juga berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمْ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنْ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (Quran Al-Munafikun: 10-11)

Marilah kita bersegera, tidak menunda kebaikan. Manfaatkanlah kesempatan hidup yang hanya sekali ini. Sebelum datang kematian yang memutus kenikmatan.

Ketiga: Kita ajarkan diri kita, istri kita, dan anak-anak kita untuk mengingat nikmat Allah yang banyak. Mengingat nikmat kenyamanan dalam beraktivitas. Nikmat keamanan. Nikmat kepastian kondisi. Nikmat salat berjemaah di masjid. Karena sedikit banyak, kenikmatan-kenikmatan ini berkurang kadarnya di saat-saat sekarang ini. Dari sini kita bisa merasakan betapa besar dan berharganya nikmat-nikmat tersebut.

Mengingat-ingat nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita sangat bermanfaat. Baik secara agama maupun dunia. Bisa menambah keimanan dan kecintaan kepada Allah. Bisa menjadi sebab hidayah dan istiqomah. Membuat dada lapang dan melahirkan sifat qonaah (merasa cukup). Dan faidah-faidah lainnya yang sangat banyak. Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu.” (Quran Ali Imran: 103)

Dan juga firman-Nya,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu.” (Quran Al-Maidah: 7)

Yang perlu kita sadari, teguh di atas agama dan bertambahnya istiqomah adalah suatu kenikmatan. Hal itu bisa kita dapatkan dengan Kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersegera melakukan ketaatan. Serta bersegera meninggalkan hal-hal yang Allah larang baik berupa dosa besar maupun dosa kecil.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ

“Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang menurut pandangan kalian lebih kecil dari sehelai rambut, namun kami menganggapnya di zaman Nabi sebagai perbuatan yang dapat membinasakan (pelakunya).” (HR Bukhari)

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Bilal bin Saad rahimahullah mengatakan,

لا تنظُرْ إلى صِغَرِ الخطيئةِ، ولكن انظُرْ مَن عصَيْتَ

“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” (@fen/sumber: khotbahjumat.com) **



Kamis, 06 Agustus 2020

Khutbah Jumat: Delapan Kunci Utama Wujudkan Generasi “Rabbi Radhiyah”

Ilustrasi./minanews.net/ist.

MENJADIKAN atau mewujudkan akhlak anak-anak sebagai generasi penerus  yang diridai oleh Allah atau dalam Alquran dikatakan generasi "rabbi radhiyah" merupakan cita-cita seluruh orangtua muslim.

Dalam Alquran Surat Maryam ayat 12-15 dijelaskan;

یَـٰیَحۡیَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَـٰبَ بِقُوَّةࣲۖ وَءَاتَیۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِیࣰّا ١٢. وَحَنَانࣰا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةࣰۖ وَكَانَ تَقِیࣰّا ١٣. وَبَرَّۢا بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ وَلَمۡ یَكُن جَبَّارًا عَصِیࣰّا ١٤. وَسَلَـٰمٌ عَلَیۡهِ یَوۡمَ وُلِدَ وَیَوۡمَ یَمُوتُ وَیَوۡمَ یُبۡعَثُ حَیࣰّا .١٥

Artinya: “(12) Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. (13) Dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa. (14) Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka. (15) Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS Maryam 12-15).

Menurut Imaamul Muslimin, KH. Yakhsyallah Mansur, MA., paling tidak ada delapan kunci utama untuk menjadikan generasi Rabbi Radhiyah.

Kunci pertama yaitu harus berpegang pada Alquran karena semua petunjuk sudah terdapat di dalam Alquran. Pegang erat Alquran dan sungguh-sungguh.

Kedua adalah belajar sungguh-sungguh. Ketika seseorang belajar dengan sungguh-sungguh, insyaallah hasilnya akan maksimal dan sesuai dengan Alquran. Sebaliknya jika belajarnya main-main,  hasilnya tidak akan baik, dan ini bisa menjadi perusak bangsa.

Kunci ketiga yaitu mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesama dan juga rasa empati dan simpati. Saling menyayangi akan menimbulkan rasa tenang dalam jiwa dan Allah akan meridai kepada orang yang punya rasa kasih sayang terhadap sesama.

Keempat menjaga kebersihan. Kalau dalam Alquran disebut “zakah”, maka indah dan nyamannya suatu tempat dilihat dari kondisi kebersihannya. Apabila bersih, pasti akan timbul rasa nyaman.

Kelima yakni berhati-hati. Jangan sembarangan menaruh barang karena timbulnya kerugian adalah disebabkan oleh adanya orang yang tidak berhati-hati. Adanya orang yang suka mengambil barang milik orang lain adalah disebabkan oleh adanya orang yang tidak berhati-hati dalam menaruh sesuatu.

Keenam adalah berbakti kepada kedua orangtua dan ini merupakan kunci utamanya sukses. Rida orangtua merupakan peran penting bagi suksesnya kehidupan seorang penuntut ilmu.

Ketujuh, tidak boleh bersikap sombong (lam yakun jabbaaron). Maka, banyaknya ilmu yang seseorang miliki, tidak boleh menjadikan dirinya sombong, bahkan seharusnya semakin banyak ilmu yang dimilikinya, maka semakin merendah. Pepatah mengatakan. orang berilmu itu seperti pohon padi, semakin berisi maka dia akan semakin merunduk.

Kedelapan yakni tidak melanggar aturan. Di mana pun tempat kita menuntut ilmu pasti ada peraturannya. Maka, patuhi peraturan tersebut. Tidak ada aturan yang dibuat dengan tujuan yang buruk, sudah pasti aturan-aturan dibuat adalah untuk kebaikan.

Generasi pertama yang memiliki gelar Rabbi Radhiyah ini adalah putra dari Nabi Zakariya, yakni Nabi Yahya alaihissalam.

Nabi Zakariya diuji oleh Allah dengan ujian tidak dikaruniai anak setelah berpuluh-puluh tahun menikah. Zakariya terus berdoa kepada Allah sampai akhirnya Allah kabulkan doanya, dikaruniakanlah seorang anak ketika Zakariya sudah berumur 120 tahun.

Anak tersebut oleh Allah diberi nama Yahya, dan dialah satu-satunya manusia yang diberi nama langsung oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Barakallahu lii walakum. (@fen/sumber: minanews.net) **

Kamis, 23 Juli 2020

Khutbah Jumat: Resep dari Allah agar Tak Terpapar Virus Godaan Setan

Oleh F. Syarifuddin C

ALLAH SWT berfirman dalam Alquran yang artinya kurang lebih:

"Pada hari ketika manusia-manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap diri dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkan mereka." (QS Surat Abasa 34 - 37)

Begitulah  gambaran pada hari kiamat yang waktunya tidak diketahui tibanya, tetapi gambarannya sebagaimana telah diterangkan dalam ayat Alquran di atas. Bahwa ketika datang kiamat, setiap orang hanya bisa mengurusi dirinya sendiri dalam keadaan sibuk tak keruan, paknik, tak tahu apa yang harus dilakukan karena keadaannya sungguh mendadak. 

Jauh dengan saudara dan handai tolan, apalagi dengan orang lain, bahkan dengan anak dan istri, dengan ayah dan ibu, bakal saling berpisah menyelamatkan diri karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk saling tolong.

Keadaan seperti itu takk ubahnya kita menghadapi pandemi corona saat ini. Betapa tidak, semua orang di mana pun berada tengah asyik menikmati kehidupan normal, entah itu yang sedang mencari nafkah, yang ke kantor, yang mengajar, yang menjadi pemimpin, yang sedang menghibur lewat kreasi seni budaya, dan sebagainya, semuanya terkesima, mendapati amuk corona tanpa ampun. 

Bahkan yang lebih memprihatinkan bagi kita sebagai muslim, saf salat berjemaah juga yang mestinya rapat tak boleh ada celah, harus direnggangkan alias berjarak. Demikian pula tidak boleh berkumpul, tetapi harus saling berjauhan.
Yang dipikirkan setiap orang di musim pandemi corona ini tak ada lagi kecuali kewajiban menjaga diri masing-masing. Ya, agar virus corona tidak terpapar kepada dirinya atau memaparkan kepada orang lain.

Keadaan seperti ini datang secara tiba-tiba, tak ada pemberitahuan atau pengumuman dari siapa pun termasuk pemerintah, sungguh sangat mendadak. Walaupun sekarang orang-orang sudah merasa terbiasa seolah sudah begitu akrab dengan ancaman virus corona atau Covid-19 yang memang misteri tetapi ada meski tak tahu persis di mana adanya. 

Melihat kenyataan seperti itu ya tidak ada jalan lain kecuali harus waspada atau berhati-hati. 
Ya, corona tidak kasat mata, tetapi ada dan terasa oleh orang yang terpapar terbukti dia sakit lalu dirawat oleh pemerintah. Lalu setelah dirawat ada yang sembuh kembali, alhamdulillah, tetapi ada pula yang tidak tertolong hingga ribuan orang untuk di negara kita, sedunia sudah jutaan.

Kalau dipikir lebih dalam lagi hal itu tidak berbeda dengan virus kehidupan kita sehari-hari yang juga tidak terlihat tetapi ada buktinya, ada akibatnya. Apa pula itu?  Yaitu virus godaan sétan atau iblis laknatullah, musuh nyata manusia. Bukankah si iblis  mah tidak terlihat fisiknya, tidak tampak raganya, tetapi godaannya ada jejaknya pada kelakuan-kelakuan manusia yang buruk yang barangkali kita juga terkena.

Sekarang, untuk mengatasi virus corona  diusahakan membuat vaksin di mana-mana, termasuk di negara kita. Kita berharap vaksin itu segera ada dan bisa digunakan dengan mujarab sehingga bisa mengatasi ancaman virus corona yang ganas tersebut serta kita semua hidup dalam keadaan normal seperti sedia kala.

Lalu bagaimana mengatasi virus godaan setan, apakah ada vaksinnya? Tentu saja ada karena seperti penyakit lahir yang menurut keterangan pasti ada obatnya, nah penyakit batin akibat virus sétan juga ada obatnya. Bahkan sangat banyak dan gratis asal kita rajin mencarinya dengan cara mencari ilmu. Ini salah satunya yaitu yang termaktub dalam Alquran yang  artinya kurang lebih:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang kayu bakarnya manusia dan batu, yang menjaganya malaikat-malaikat yang galak dan keras.." (Surat At Tahrim: 6)

Nah inilah salah satu resep dari Allah agar kita tidak terpapar virus godaan setan.

Barakallaahu lii walakum, Aamiin. **