INFO KEMITRAAN

Info aneka kebutuhan barang Anda, klik tautannya di sini Showcase Fendy Sy. Citrawarga. https://vt.tiktok.com/ZS6f5nX7Y/?page=Mall

Rabu, 26 Agustus 2020

TAUSIAH: Muslim Dilarang Membuka Aib Saudaranya.

Gibah (hanya ilustrasi)./io9.com/via republika.co.id.

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com -  Suatu hari Rasulullah saw. naik ke atas mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi, "Janganlah kalian menyakiti kaum muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar)

Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitabnya Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul  mengungkapkan, di zaman sekarang ini sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya dalam menjaga rahasia. Kebanyakan manusia-kecuali manusia yang mendapat pertolongan Allah-tak dapat menjaga rahasia orang lain. Padahal, membuka aib orang lain termasuk bagian dari khianat.

Dalam hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk keutamaan. Nabi saw menganjurkan umatnya agar senantiasa saling memelihara rahasia dan menutupi aib saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam ketenangan, kedamaian, juah dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.

Namun, kita sering melalaikan peringatan ini. Kita kerap  bermain-main dengan aib. Kita lupa kalau suatu saat Allah SWT pun akan membukakan aib kita tanpa bisa ditolak. Sesungguhnya, ketika membuka aib orang lain, sama dengan memberitahukan aib kita sendiri.

Padahal, dengan menutup aib orang lain, Allah akan menutup aib kita, baik di dunia maupun akhirat. Rasulullah bersabda, 

"Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia, melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya".

Aib merupakan sesuatu yang diasosiasikan buruk, tidak terpuji, dan negatif. Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya. Manusia harus berintrospeksi dan menghisab diri sendiri untuk memperbaikinya. Umar bin Khattab berpesan, 

"Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang."

Dalam hidup, kita terkadang terlupakan dengan aib-aib sendiri yang begitu menggunung karena begitu seringnya memikirkan  aib orang lain. Kita juga sering lupa untuk bersyukur bahwa Allah telah menjaga aib-aib kita. Sesungguhnya, manusia bukanlah apa-apa jika semua aibnya dibukakan di depan mata orang lain. (@fen/republika.co.id) **

Kamis, 20 Agustus 2020

Khutbah Jumat: Refleksi Tahun Baru Islam 1442 Hijriah


Oleh Ustaz Sukron Ma'mun 

MAASYIRAL muslimin rahimakumullah, bulan Zulhijah adalah bulan terakhir dalam sistem penanggalan Hijriah atau bulan kedua belas. Kita telah memasuki bulan baru dan tahun baru Hijriah, yakni bulan Muharram 1442 H. Oleh karenanya tidak ada salahnya kita terus melakukan muhasabah, yakni menghitung kedirian kita atau introspeksi atas apa yang kita lakukan selama satu tahun sehingga dapat menjadi pijakan kita dalam melangkah di tahun-tahun berikutnya. 
 
Dalam rangka hal tersebut, kiranya pantas kita mengingat kembali pesan Sayyidina Ali karramallahu wajhah, sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul Ibad karya Ibnu Hajar al-Asqalani:
 
كُنْ عِنْدَ اللهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلاً مِنَ النَّاسِ
 
“Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah, dan jadilah manusia yang paling jelek dalam pandangan dirimu, serta jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”
 
Jamaah Jumat rahimakumullah, pesan ini memberikan arahan yang sangat luar biasa bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia, demi memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Pertama, kita diharapkan terus meningkatkan ketakwaan dan amal kebaikan di hadapan Allah subhanahu wata‘ala. Menjalankan perintah-Nya dan sedapat mungkin menjauhi apa yang menjadi pantangan atau larangan dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang baik di sisi-Nya.  
 
 Kedua, kita harus merasa kurang atas amal kebaikan yang kita lakukan dengan terus merasa diri kita jelek. Hal ini bukan berarti merendahkan diri, namun untuk menjauhkan kita dari sikap ujub (sombong), riya (pamer), dan sum’ah (mengharap pujian orang lain). 
 
Ketiga, kita harus menundukkan diri di hadapan orang lain dengan tidak merasa lebih baik. Mungkin banyak di antara kita ketika melihat orang lain, merasa dirinya lebih baik atau lebih mulia. 
 
Maasyiral muslimin rakhimakumullah, Lantas bagaimana kita mampu mendorong diri kita untuk terus berbuat kebaikan tersebut? Syekh Abdul Qadir al-Jailani memiliki tips sederhana yang dapat kita lakukan dalam keseharian kita. 

Pertama, jika kita melihat orang lain hendaknya kita memandangnya bahwa dia memiliki kelebihan daripada diri kita sendiri, mungkin dia lebih bertakwa, lebih banyak amal kebajikannya, lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah subhanahu wata‘ala. 
 
Kedua, jika kita melihat anak kecil atau lebih muda, jangan kita merasa lebih baik darinya. Katakanlah, 

“Mungkin dia dosanya lebih sedikit daripada diriku, karena umurnya lebih sedikit dariku.” Sebaliknya jika kita melihat orang lebih tua, hendaknya kita melihat bahwa dia telah berbuat kebaikan lebih banyak dari diri kita. 
 
Ketiga, jika kita melihat orang alim, orang yang memiliki ilmu, hendaknya kita menilainya dia memiliki cara yang baik dan benar mengamalkan pengetahuannya dan telah berbuat kebaikan dengan ilmunya tersebut. Sebaliknya jika kita melihat orang bodoh, hendaknya kita katakan, 

“Mungkin dia berbuat dosa atau salah akibat ketidaktahuannya, sementara kita lebih berdosa karena berbuat salah pengetahuan pengetahuan yang kita miliki.” 

Orang bodoh berbuat salah bisa jadi karena ketidaktahuannya, sementara orang alim (memiliki pengetahuan) berbuat dosa bukan karena tidak tahu. 

Ilustrasi sederhana yang mungkin dapat kita pakai, siapakah yang bisa berbuat korupsi? Tentu ia yang memiliki akses, pengetahuan bagaimana mengambil dan memanfaatkan uang tersebut untuk dirinya atau golongannya. Bukan orang yang tidak memiliki pengetahuan bagaimana menyelewengkan uang negara.  
 
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Instrospeksi diri bukan hanya dilakukan sekali, namun harus menjadi bagian yang tertanam dalam kehidupan kita sehari-hari. Muhasabah adalah cara mengendalikan hidup kita, yang akan memiliki efek luar biasa pada diri kita, keluarga, dan lebih luas lagi pada masyarakat. Keteledoran kita untuk melakukan introspeksi bukan hanya dapat mengakibatkan kerusakan pada kehidupan kita, tetapi juga kehidupan yang lebih luas yakni keluarga dan masyarakat.  Rasulullah saw. bersabda:
 
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ (رواه أحمد) 
 
“Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah.” (HR Ahmad)
 
Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mampu terus introspeksi dan berbenah diri sehingga kita mampu menjadi penyokong tumbuhnya keluarga dan masyarakat yang baik menuju baldatunn thayyibatunn warabbun ghafuur. (@fen/sumber: portal jember dari laman resmi nu online) **
 


Selasa, 18 Agustus 2020

TAUSIAH: 3 Perilaku yang Sangat Dibenci Rasulullah

 

Kaligrafi Rasulullah Muhammad saw.  Ilustrasi./republika.co.id/ist.

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com -    

إنَّ أحبَّكم إليَّ وأقربَكم منِّي في الآخرةِ محاسِنُكم أخلاقًا وإنَّ أبغضَكم إليَّ وأبعدَكم منِّي في الآخرةِ أسوَؤُكم أخلاقًا الثَّرثارون المُتفيهِقون المتشدِّقون

Dalam kitab Riyadhush-Shalihin, Imam an-Nawawi menukil sebuah hadis yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Jabir r.a.. Pada suatu kesempatan, Nabi saw. berkumpul dengan sahabatnya, lalu memberi petuah yang menggetarkan hati. 

"Sesungguhnya, yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan, sungguh yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh duduknya denganku pada hari kiamat adalah al-tsatsaruun dan al-mutasyaddiquun serta al-mutafaihiquun,"  Rasulullah saw bersabda. 

Lalu para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, kami mengerti al-tsartsaruun dan al-mutasyaddiquun. Tapi, siapakah al-mutafaihiquun itu?" 

Beliau saw. menjawab, "Al-mutakabbiruun."   

Melalui hadis ini, Nabi saw. hendak mengingatkan umatnya soal tiga perkara yang paling dibencinya karena termasuk akhlak al-madzmumah (perilaku buruk), yakni:

Pertama, al-tsartsaruun (orang yang banyak celoteh dan suka membual). Golongan pertama yang dibenci Nabi saw. adalah pembual atau pendusta yang banyak cakap dan lagunya serta pandai pula bersilat lidah. Kadang, ucapannya disertai argumentasi logis dan yuridis, namun mengandung kebohongan dan tipuan. Kalau bicara seenaknya, kurang menjaga adab dan menyela pembicaraan. 

Nabi saw. berpesan, فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ "Katakanlah yang baik atau diam." (HR Bukhari). Jangan percaya kepada orang yang banyak cakap, tapi minim amal atau tidak sesuai dengan lakunya: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”  (QS (61): 2-3).

Kedua, al-mutasyaddiquun (orang yang suka bicara berlebihan kepada orang lain). Golongan kedua yang dibenci Nabi saw. adalah orang  berlagak fasih dengan tata bahasa yang menakjubkan. Jika bicara, bumbunya berlebihan hingga tak sesuai kenyataan. Lihai dalam bertutur kata, tapi hanya ingin dapat pujian. Tidak jarang pula, bahasanya indah, namun berbisa (menghinakan). Ia pun susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.

Dalam diri manusia ada hati (wadah), akal (pengendali), dan hawa nafsu (keinginan). Jika hati kotor, yang keluar dari lisan pun kotor. Jika baik, yang keluar dari ucapan juga baik: 

 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”  (QS (91): 8-10).             

Ketiga, al-mutafaihiquun (orang yang suka membesarkan diri). Golongan ketiga yang sangat dibenci Nabi saw. yakni orang sombong atau angkuh. Kesombongan pertama adalah ketika iblis menolak sujud kepada Nabi Adam a.s., lalu ia pun dikeluarkan dari surga (QS (5): 29-35). 

Fir'aun yang mengaku Tuhan (QS (79): 23-25,(28): 38), akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah. Qarun yang pongah karena harta kekayaannya (QS (28):76-82), dilenyapkan ke perut bumi. Raja Namrudz yang menyetarakan diri dengan Allah SWT, justru dimatikan seekor nyamuk:     

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: 'Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,' orang itu berkata: 'Saya dapat menghidupkan dan mematikan'. Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,' lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS (2):258). (@fen/sumber: republika.co.id ) **

Senin, 17 Agustus 2020

Tausiah: Hindari Lima Bentuk Kedurhakaan kepada Orangtua.

Ilustrasi berbakti orangtua./republika.co.id/ist.

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com - Islam melarang keras segala bentuk kedurhakaan seorang anak kepada orangtuanya. Bahkan, Islam memasukkannya ke dalam dosa-dosa besar yang mengiringi syirik.

Durhaka kepada kedua orangtua ('uququl walidain) artinya ialah tidak menaatinya, memutuskan hubungan dengan keduanya, dan tidak berbuat baik kepada keduanya (Lisanul 'Arab, karya Ibnul- Manzhur). 

Meskipun disebut walidain (kedua orangtua), tetapi durhaka kepada salah seorang di antaranya (ayah atau ibu) tetap tergolong pada anak durhaka. Dalam hadis, ditemukan beberapa penjelasan tentang bentuk-bentuk 'uququl walidain, di antaranya:

Pertama, mengucapkan perkataan atau melakukan perbuatan yang menyebabkan orangtua bersedih hati, apalagi sampai menangis. 

بكاء الوالدين من العقوق

Abdullah bin Umar berkata, "Membuat tangisnya kedua orangtua adalah termasuk durhaka kepadanya." (HR Bukhari). 

Tangisan orangtua itu disebabkan tersinggung atau sakitnya hati mereka terhadap perkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh anaknya. Berbeda halnya ketika mereka meneteskan air mata karena terharu atau bangga, tentu tidak termasuk bentuk kedurhakaan. 

Kedua, melaknat kedua orangtua. Rasul saw. bersabda:   ولعَن اللهُ مَنْ لعَن والديهِ "... Allah melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya." 

Seorang anak yang berani mengeluarkan kata-kata cacian atau mendoakan kejelekan kepada kedua orangtuanya, maka Allah akan melaknatnya. Laknat Allah akan membuat hidupnya jauh dari petunjuk-Nya sehingga ia diliputi oleh kegelapan dan kesusahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Ketiga, mencela orangtua, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sabdanya:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ: «يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أَمَّهُ

"Termasuk dosa besar, (yaitu) seseorang mencela dua orangtuanya." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, adakah orang yang mencela dua orangtuanya?" Beliau saw. menjawab, "Ya, seseorang mencela bapak orang lain, lalu orang lain itu mencela bapaknya. Seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang lain itu mencela ibunya." (HR al-Bukhari-Muslim).

Keempat, melakukan perbuatan buruk yang membuat orangtuanya marah. Nabi saw. bersabda: 

مَن أصْبحَ مُطيعًا لله في والِدَيه أصْبحَ له بابانِ مَفتوحانِ مِن الجنَّة، وإنْ أمسى فمِثْل ذلك، ومَن أصْبحَ عاصيًا لله في والِدَيه أصْبحَ له بابانِ مَفتوحانِ إلى النَّار، وإنْ أمْسى فمِثْل ذلك، وإنْ كان واحدًا فواحدٌ، قال رجل: وإنْ ظَلَماه؟ قال: وإنْ ظَلَماه، وإنْ ظَلَماه، وإنْ ظَلَماه

"... Dan, barangsiapa pagi-pagi membuat marah kedua orangtuanya, maka baginya dua pintu yang terbuka menuju neraka, dan jika ia sore-sore berbuat demikian, maka baginya seperti itu dan kalau orangtua seorang maka ia mendapatkan satu pintu meskipun keduanya menganiaya, meskipun keduanya menganiaya, meskipun keduanya menganiaya." (HR Baihaqi).

Hadis ini menjelaskan bahwa seorang anak tidak boleh melakukan hal-hal buruk yang mengundang kemarahan orangtuanya. Setiap orangtua yang baik tentu akan marah jika anaknya melakukan perbuatan buruk, apalagi buruk dalam pandangan agama, seperti berbuat zina, meminum minuman keras, berjudi, dan sebagainya.

Kelima, lebih mementingkan istri daripada orangtua. Jika seorang anak lebih mementingkan istrinya dari pada orangtua, lalu orangtua tersinggung dengan perlakuan itu, maka ia termasuk anak durhaka.

Hal ini dapat dilihat dari kisah Alqamah. Menjelang wafat, ia mengalami kesulitan mengucapkan syahadat saat sakaratul maut, padahal Alqamah adalah ahli ibadah. Ternyata ibunya tidak rida kepada Alqamah karena ia pernah lebih mementingkan istri daripada ibunya. Karena tidak dimaafkan, Rasul memerintahkan Bilal untuk membakar Alqamah maka hati si ibu pun iba dan tak rela anaknya dibakar di hadapannya. Sang ibu pun rida dan memaafkan Alqamah. @fen/sumber: republika.co.id

Sabtu, 15 Agustus 2020

Yang Mendapat Cahaya Ilahi di Balik Jeruji Besi (2/Habis)

BAIT-buat-dakwah.blosspot.com - Karisma, pemikiran, dan keberanian pria kelahiran Nebraska tanggal 19 Mei 1925 itu bersinar terang, hingga membuatnya mampu menjabat sebagai ketua Nation of Islam usai bebas dari penjara. Pada 1964 ia memutuskan keluar karena berseberangan pendapat dengan elite organisasi lain.

Di masa setelahnya ia didekati oleh beberapa tokoh muslim Sunni yang akhirnya mampu mendorong Malcolm untuk memeluk Islam arus utama. Malcolm pun melaksanakan ibadah haji pada bulan April 1964. Ironisnya, setahun kemudian ia tewas dibunuh oleh tiga orang anggota Nation of Islam.

Demi Perlindungan, Tapi Bisa Jadi Ekstremis?

Di luar alasan keyakinan, menjadi muslim di penjara juga punya keuntungan lain. Penjara di AS punya kultur geng dan kekerasan antar-anggotanya. Sedemikian kuatnya, sampai orang-orang harus punya perlindungan agar bisa bertahan. Napi yang mau masuk Islam bisa mendapatnya dari kelompok berisi napi muslim lain. Solidaritas terbangun karena kesamaan akidah.

Di Inggris para napi berbondong-bondong masuk Islam juga demi kepentingan pragmatis. Selain dukungan dan perlindungan dari napi muslim lain, mereka juga mengharapkan durasi keluar ruang tahanan lebih lama atau menu makanan yang lebih enak selama bulan Ramadan, demikian lapor Telegraph.

Telegraph memuat ulang riset bertajuk Muslim Prisoner's Experiences yang mengungkapkan bahwa 30 persen dari 164 napi muslim yang diwawancara ternyata masuk Islam di penjara. Otoritas penjara mengaku punya kekahawatiran para napi lambat laun berubah menjadi ekstremis jika bergaul dengan tahanan ekstremis lain.

Dalam laporan Guardian, fenomena napi masuk Islam juga melanda Australia. Namun para akademisi, imam, dan pekerja penjara di Australia menyatakan bahwa kekhawatiran tersebut agak berlebihan. Meski demikian, tidak berarti tidak ada potensi barang satu persen pun. Menurut peneliti Australian National University, Clarke Jones, semua tergantung kondisi di dalam penjara.

Jones telah mempelajari dua penjara di Australia dan kurang lebih sembilan lainnya di negara-negara Asia Tenggara. Salah satu kesimpulan risetnya adalah proses radikalisasi akan makin berhasil jika kondisi di dalam penjara semakin keras.

Faktor utama seorang teradikalisasi bukan agama, sebab temuannya berkata bahwa semakin saleh seorang narapidana justru semakin kecil kemungkinan ia menjadi radikal. Agama bukan faktor satu-satunya, melainkan juga menyangkut kultur di dalam penjara, hambatan-hambatan sosial dalam kontak dan komunikasi antar-penghuni, hingga kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.

Mualaf Guantanamo

Uniknya, kisah masuk Islam tak hanya terjadi pada narapidana. Ada seorang penjaga Guantanamo Bay, salah satu penjara dengan sistem pengamanan paling ketat di dunia, yang masuk Islam.

Namanya Terry Holdbrooks. Sebelumnya ia bergabung di militer AS. Sebelum berganti keyakinan, ia termasuk peminum kelas berat. Kebenciannya kepada Muslim terpupuk terutama usai ia mengunjungi situs aksi teror 9/11 di New York.

Namun sikapnya pelan-pelan berubah berkat sikap ramah para napi muslim di Guantanamo Bay. Terry sendiri bukan pria yang membiasakan senyum saat bertemu orang lain. Terry kagum, sekaligus bertanya-tanya, sebab napi-napi itu bisa tetap ramah meski dikurung di salah satu penjara paling kejam di AS—bahkan dunia.

“Apa yang kamu (napi) punya yang aku tak punya?” katanya kepada Al Jazeera.

Terry lalu mencari tahu, dan menemukan dunia Islam melalui dialog dengan seorang tahanan, Tahanan inilah yang mampu membuat Terry jatuh cinta dengan Islam. Tahanan ini memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam. Alih-alih beradu argumen, si tahanan kerap mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Terry berpikir mendalam tentang keyakinannya.

Bersama tahanan itu pula Terry mengucap dua kalimat syahadat, syarat pertama dan utama menjadi seorang muslim.

“Kukira sangat amat mungkin untuk mengadopsi Islam, menjalankan kehidupan yang Islami sebagai seorang muslim, dan di saat yang bersamaan juga menjadi seorang warga negara Amerika. Masuk Islam bak membuka pintu baru. Masuk Islam di Guantanamo, sepertinya sesuatu yang istimewa,” pungkasnya. (@fen/sumber: tirto.id) **


Yang Mendapat Cahaya Ilahi di Balik Jeruji Besi (1)

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com - Islam adalah agama dengan pertumbuhan terpesat di Amerika Serikat. Pew Research pernah menelitinya di tahun 2007, 2011, dan 2017 dengan menggunakan data sensus pemerintah. Hasilnya, sebagaimana dilaporkan CNN, populasi muslim bisa menjadi komunitas relijius terbesar kedua di Paman Sam dalam dua dekade ke depan.

Tahun lalu ada 3,45 juta muslim di AS. Jika tren pertumbuhannya bertahan, pada tahun 2050 jumlahnya akan meningkat jadi 8,1 juta jiwa. Populasi muslim akan melampaui populasi orang Yahudi yang kini jadi kelompok pemeluk agama terbesar kedua di AS.

Pertumbuhan yang pesat tak hanya terjadi di kalangan warga penikmat kebebasan, tetapi juga yang berada di balik jeruji besi. Banyak laporan yang mengonfirmasi tren ini dalam beberapa tahun, bahkan dekade belakangan. 

Merujuk Bloomberg tahun lalu, misalnya, kini populasi napi muslim mencapai 18 dari total napi di AS. Dari seluruh proses pindah keyakinan yang dicatat otoritas penjara, 80 persennya pindah ke Islam.

Pew Research pada 2012 menyebutkan bahwa napi muslim membentuk sekitar 9 persen dari total 1,6 juta narapidana di penjara negara dan federal di AS. Lebih tinggi ketimbang catatan Biro Penjara AS yang pada 1997 menyatakan ada 7.27 persen napi muslim dari total seluruh tahanan di penjara federal AS.

Ada orang yang khusus menangani hak beribadah napi di AS yang kerap diistilahkan dengan “chaplain” atau pendeta. Dalam riset Pew Research mereka diminta untuk menyebutkan kondisi para pemeluk agama di penjara-penjara Amerika sehingga dapat dianalisis secara kuantitatif tingkat pertumbuhan, stagnasi, atau penurunan jumlahnya.

Sebanyak 51 persen responden menyatakan Islam adalah agama dengan jumlah pemeluk paling pesat berkembang. Di posisi kedua ada Protestan dengan 47 persen. Berturut-turut di bawahnya ada pengikut pagan (34 persen), spriritual suku asli Amerika (24 persen), Yahudi (19 persen), Katolik (14 persen), tidak terafiliasi (12 persen), Buddha (12 persen), Mormon (3 persen), Kristen Ortodok (3 persen), dan Hindu (1 persen).

The Australian pernah melaporkan bahwa sepanjang tahun 2001 hingga 2014 diestimasikan ada seperempat dari satu juta tahanan di AS yang masuk Islam. Jumlahnya berarti sekitar 250.000 orang. Sementara Shrenn Khan dari Al Jazeera pada awal April kemarin menyoroti fenomena ini dengan menyebutkan bahwa jumlah napi muslim di AS kini mencapai 10-15 persen dari total napi.

Tuntut Hak, Lawan Diskriminasi

Shreen Khan lalu menelaah lebih dalam melalui salah satu penjara yakni California Departement of Corrections and Rehabilitation. Ia bertemu dengan imam para napi muslim bernama Muhammad Ali. Ali mengatakan ada satu hingga dua napi yang masuk Islam hampir tiap bulannya. Agama dianggap penting bagi napi karena menghubungkan mereka dengan hal yang lebih besar dibanding situasi yang sedang mereka hadapi.

“Di penjara kamu tak bisa mengontrol banyak hal. Memeluk Islam menyediakan kesempatan bagi napi untuk memikirkan tentang rehabilitasi. Berpikir tentang arti kehidupan. Tentang akan menjadi manusia seperti apa nantinya, saat masih berada di balik jeruji besi maupun setelah bebas.”

Persoalannya, lanjut Ali, tidak semua penjara ramah terhadap Islam atau pemeluknya. Era yang diskriminatif bagi napi-napi Muslim terjadi pada dekade 1970-an. Pada 1996 beberapa napi Muslim melayangkan tuntutan demi terpenuhinya akses terhadap layanan agama. Termasuk di antaranya minta disediakan seorang imam dan kesempatan menghadiri salat jumat tanpa dibayang-bayangi hukuman penalti.

Tuntutannya dikabulkan. Namun, otoritas penjara kala itu berdalih bahwa pihaknya tak pernah memberlakukan larangan bagi para napi untuk menjalankan keyakinannya. Permasalahan yang sebenarnya, lanjut mereka, sekadar terkait administrasi.

Meski akses sudah lebih terbuka, perjuangan melawan diskriminasi belum selesai. Data riset Institute for Social Policy and Understanding (ISPU) bulan Januari 2013 (PDF) menyatakan bahwa laporan diskriminasi atas dasar agama di penjara AS sepanjang 2005 dan 2007 berasal dari napi muslim. Mereka juga sekaligus kelompok pemohon akomodasi relijius terbesar dari 1997 ke 2008.

Napi-napi muslim meneladani semangat Malcolm X, tokoh muslim kulit hitam Amerika yang aktif membela hak asasi manusia. Ia pernah dipenjara pada tahun 1946, kala usianya menginjak 20 tahun. Di balik jeruji besi, tepatnya pada tahun 1952, dan bergabung menjadi anggota organisasi Nation of Islam. (bersambung/@fen/sumber: tirto.id) **

Tausiah: Penyesalan Mereka yang Memilih Jalan Bengkok


Ilustrasi./hidayatullah.com/ist. 

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com -  Allah Taala telah menyediakan dua jalan kepada manusia, yakni jalan yang lurus dan jalan yang bengkok. Manusia dipersilahkan memilih. Bebas! Namun, ada konsekuensi atas pilihan tersebut.

Tentang kedua jalan ini, telah diperkenalkan oleh Allat Taala kepada manusia lewat perantaraan para nabi dan rasul. Manusia yang melakukan proses “iqra” akan mengetahui dengan jelas kedua jalan ini beserta konsekuensinya, termasuk bagaimana kesudahan para pemilih jalan bengkok.

Para pemilih jalan bengkok ini akan menyesal teramat dalam. Mereka memohon kepada Allah Taala untuk dikembalikan ke dunia agar bisa memilih jalan yang lurus. Namun, penyesalan mereka sudah tak ada gunanya lagi.

Tentang hal ini, Allah Taala berfirman dalam al-Quran surat Fatir (35) ayat 37 bahwa kelak para pemilih jalan bengkok ini akan berteriak di dalam neraka. Kata mereka, 

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan dahulu.”

Lalu Allah Taala berkata kepada mereka, 

“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir? Padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.”

Sebenarnya, Allah Taala telah membukakan pintu ampunan kepada orang-orang yang memilih jalan bengkok asalkan mereka menyadari kekeliruannya dan bertaubat dengan sebenar-benar taubat.

Ini dinyatakan oleh Allah Taala dalam al-Quran surat Az-Zumar (39) ayat 53, 

“… Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Imam Ahmad menceritakan tentang ayat ini bahwa suatu ketika seorang sahabat Rasulullah saw. bernama Tsauban mendengar Rassulullah saw. bersabda, 

“ 'Aku tidak suka bila diberikan kepadaku dunia dan seisinya sebagai ganti dari ayat ini', yaitu 'Katakanlah wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri …' hingga akhir ayat. Lalu ada seorang laki-laki bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang musyrik?' Rasulullah saw. terdiam, lalu bersabda, 'Ingatlah, dan juga terhadap orang-orang musyrik'. Beliau mengulanginya hingga tiga kali."

Selanjutnya, dalam surat Az-Zumar (39) ayat 54 dan 55, Allah Taala berfirman, 

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Alquran) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya.”

Lalu, dalam ayat 56, 57, dan 58, surat Az-Zumar (39), Allah Taala kembali mengingatkan manusia agar jangan sampai kelak menyesal dengan mengatakan, 

“Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang mengolok-olokkan (agama Allah).”

Atau, mengatakan, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa,” Atau, berkata setelah melihat azab di depan mata, “Sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), tentu aku termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Lalu, rangkaian ayat ini ditutup dengan firman Allah Ta’ala, “Sungguh, sebenarnya keterangan-keterangan-Ku telah datang kepadamu. Tetapi kamu mendustakannya, malah kamu menyombongkan diri dan termasuk orang kafir.” (Az-Zumar (39): 59)

Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang menyesal sebagaimana digambarkan oleh Allah Taala dalam rangkaian ayat-ayat tadi. (@fen/sumber:hidayatullah.com) **