INFO KEMITRAAN

Info aneka kebutuhan barang Anda, klik tautannya di sini Showcase Fendy Sy. Citrawarga. https://vt.tiktok.com/ZS6f5nX7Y/?page=Mall

Jumat, 14 Agustus 2020

Khutbah Jumat: Jangan Takut Tak Dapat Rezeki

Ilustrasi./minanews.net/ist.

Oleh Ali Farkhan Tsani

KITA sebenarnya tidak sedang mencari rezeki. Tapi menjemput rezki. Rezekinya sudah ada, sudah Allah tentukan. Tinggal kita jemput. Yang kita lakukan adalah mencari berkahnya dari rezeki itu.

Kita jangan takut dapat atau tidak dapat rezeki. Karena itu semua sudah ada dalam jaminan Allah. Yang penting adalah justru apakah kita dapat berkahnya atau tidak? Berkah itu karena halal caranya dan halal zatnya.

Jadi, kita ikhtiar jangan takut tidak dapat rezeki. Tapi takutlah tidak dapat rida Ilahi.

Wilayah kita adalah meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar dan memperkuat doa. Jangan risau tidak dapat rezeki yang itu sudah dijamin Allah. Tapi risaulah kalau tidak dapat rida Allah.

Pernahkah kita tidak minum dalam sehari saja? Atau tidak bernafas satu jam saja? Ternyata banyak rezeki yang datang sendiri. Air minum, udara, semua rezki dari Allah.

Bahkan saat kita di dalam kandungan ibu. Apakah kita mencari rezeki? Ternyata tidak. Rezekilah yang mendatangi kita.

Sekarang yang terpenting adalah kita kerja yang benar. Benar niatnya, benar pula caranya. Kalau dapat rezeki, kita bersyukur. Kalau tidak dapat atau belum sesuai harapan, ya kita bersabar.

Soal jaminan Allah dalam hal rezeki, di antaranya terdapat di dalam Surat Hud (11) Ayat 6:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).”

Berkaitan dengan ayat ini, Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa seluruh rezeki dan ketentuannya hanya Allah yang semata-mata memilikinya. Simpanan rezeki tersebut adalah di tangan Allah. Allah-lah yang memberi pada siapa yang Allah kehendaki, Allah pula yang menghalangi rezeki tersebut pada yang lain sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya yang luas.

Bukan berarti juga berpangku tangan dan meminta-minta. Namun tetap maksimalkan ikhtiar, doa  dan tawakkal. Ikhtiar itu fisikal. Doa itu lisan. Tawakkal itu jiwanya.

Berkaitan dengan ini, ada satu doa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ajarkan kepada kita agar kita merasa cukup dengan rezeki yang halal. Sehingga tidak perlu lagi menambah dengan yang haram. Sehingga tidak perlu lagi kita berbuat korup, menipu, menzalimi atau memakan riba.

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Artinya: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR At-Tirmidzi).

Hal lainnya adalah kita seringkali menyebut rezeki itu hanya yang bersifat materi, kasat mata, seperti uang, makanan, benda-benda, dsb. Namun justru ada rezeki dalam bentuk lain yang sering kita lupakan, yaitu rezeki dalam bentuk nikmat kesehatan, kelapangan waktu, ketekunan beribadah, nikmat Islam dan iman.

Kita dapat bertadarus satu hari satu juz, itu rezeki yang luar biasa. Kita konsisten salat lima waktu berjemaah, jangan lupa itu pun rezeki tak terkira. Kita memiliki anak yang tekun menghafal ayat-ayat Alquran, gemar ke masjid salat berjemaah, berbakti kepada orang tua. Itu pun sungguh rezeki sangat besar.

Semoga Allah cukupkan kita dengan rezeki yang halal, thayyib, berkah, mudah lagi melimpah. Aamiin. (@fen/sumber: minanews.net)**

Rabu, 12 Agustus 2020

6 Orang yang Doanya Selalu Diterima Allah SWT


Ilustrasi/eramuslim/ist. 

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com. -  NABI Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap kali seseorang berdoa karena Allah Subhanahu wa ta’ala, maka Allah akan menerima permohonannya atau menghindarkan masalah yang datang.

Jika orang tersebut berdoa sesuatu yang tidak dapat diterima dalam syariat Islam atau melanggar aturan, maka tidak diterima dengan cara apa pun.

Berikut ini enam jenis orang yang doanya selalu diterima Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dikutip dari The Islamic Information, Kamis (11/6).

1. Doa orang sakit

Di antara doa yang mustajab adalah doa yang dipanjatkan dari seseorang ketika dalam kondisi lemah, terpepet, terdesak, yang sangat membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka itu, doa mereka lebih mustajab dibandingkan doa mereka yang sehat dan dalam keadaan longgar.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Artinya: “Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan." (QS An-Naml: 62)

Kita semua tahu, orang sakit termasuk di antara mereka. Ibnu Allan menjelaskan mengapa doa orang sakit lebih mustajab.

وذلك لأنّه مضطر ودعاؤه أسرع إجابةً من غيره

Artinya: “Karena orang sakit termasuk orang yang terdesak. Dan doanya lebih cepat diijabahi daripada yang lainnya.” (Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah, Syarh Al-Adzkar An-Nawawiyah, 4/92).

2. Doa orang yang berpuasa

Doa orang yang berpuasa berfungsi seperti pesona. Banyak ulama menyebut waktu puasa sebagai momen emas untuk berdoa.

An-Nawawi menjelaskan:

ﻳﺴﺘﺤﺐّ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮ ﻓﻲ ﺣَﺎﻝِ ﺻَﻮْﻣِﻪِ ﺑِﻤُﻬِﻤَّﺎﺕِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻪُ ﻭَﻟِﻤَﻦْ ﻳُﺤِﺐُّ ﻭَﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

Artinya: “Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa sepanjang waktu puasanya (selama ia berpuasa) dengan doa-doa yang sangat penting bagi urusan akhirat dan dunianya, bagi dirinya, bagi orang yang dicintai dan untuk kaum muslimin.” (Syarh Al-Muhaddzab An-Nawawi)

3. Doa ayah untuk anaknya

Biasanya seorang ibu yang banyak berdoa untuk anak-anaknya, tetapi ternyata ayah juga bisa. Sebab setiap kali seorang ayah berdoa untuk anak-anaknya akan diterima.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orangtua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR Abu Daud Nomor 1536. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini hasan).

4. Doa orang dari tempat jauh

Doa yang dipanjatkan seseorang untuk orang lain dari tempat yang jauh tidak akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan pasti dijawab.

Dari Abu Darda berkata bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ لأَِخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوْكِلُ بِهِ آمِيْنَ وَلَكَ بِمِثْلِ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan’.” (Sahih Muslim, Kitab Doa wa Dzikir bab Fadli Doa fi Dahril Ghalib)

5. Doa orang yang dianiaya

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Artinya: “Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada penghalang antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan).” (Shahih Muslim, kitab Iman 1/37–38)

6. Doa orang yang bepergian

Allah Subhanahu wa ta’ala akan menerima doa orang yang sedang bepergian (safar).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Artinya: “Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan: doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orangtua terhadap anaknya.” (Sunan Abu Daud, Kitab Sholat bab Doa bi Dhahril Ghaib 2/89. Sunan At-Tirmidzi, Kitab Al Bir bab Doaul Walidain 8/98-99. Sunan Ibnu Majah, Kitab Doa 2/348 Nomor 3908. Musnad Ahmad 2/478. Dihasankan Al Albani dalam Silsilah Shahihah Nomor 596).  (@fen/eramusim.com/okz) **

Kamis, 06 Agustus 2020

Khutbah Jumat: Delapan Kunci Utama Wujudkan Generasi “Rabbi Radhiyah”

Ilustrasi./minanews.net/ist.

MENJADIKAN atau mewujudkan akhlak anak-anak sebagai generasi penerus  yang diridai oleh Allah atau dalam Alquran dikatakan generasi "rabbi radhiyah" merupakan cita-cita seluruh orangtua muslim.

Dalam Alquran Surat Maryam ayat 12-15 dijelaskan;

یَـٰیَحۡیَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَـٰبَ بِقُوَّةࣲۖ وَءَاتَیۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِیࣰّا ١٢. وَحَنَانࣰا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةࣰۖ وَكَانَ تَقِیࣰّا ١٣. وَبَرَّۢا بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ وَلَمۡ یَكُن جَبَّارًا عَصِیࣰّا ١٤. وَسَلَـٰمٌ عَلَیۡهِ یَوۡمَ وُلِدَ وَیَوۡمَ یَمُوتُ وَیَوۡمَ یُبۡعَثُ حَیࣰّا .١٥

Artinya: “(12) Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. (13) Dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa. (14) Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka. (15) Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS Maryam 12-15).

Menurut Imaamul Muslimin, KH. Yakhsyallah Mansur, MA., paling tidak ada delapan kunci utama untuk menjadikan generasi Rabbi Radhiyah.

Kunci pertama yaitu harus berpegang pada Alquran karena semua petunjuk sudah terdapat di dalam Alquran. Pegang erat Alquran dan sungguh-sungguh.

Kedua adalah belajar sungguh-sungguh. Ketika seseorang belajar dengan sungguh-sungguh, insyaallah hasilnya akan maksimal dan sesuai dengan Alquran. Sebaliknya jika belajarnya main-main,  hasilnya tidak akan baik, dan ini bisa menjadi perusak bangsa.

Kunci ketiga yaitu mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesama dan juga rasa empati dan simpati. Saling menyayangi akan menimbulkan rasa tenang dalam jiwa dan Allah akan meridai kepada orang yang punya rasa kasih sayang terhadap sesama.

Keempat menjaga kebersihan. Kalau dalam Alquran disebut “zakah”, maka indah dan nyamannya suatu tempat dilihat dari kondisi kebersihannya. Apabila bersih, pasti akan timbul rasa nyaman.

Kelima yakni berhati-hati. Jangan sembarangan menaruh barang karena timbulnya kerugian adalah disebabkan oleh adanya orang yang tidak berhati-hati. Adanya orang yang suka mengambil barang milik orang lain adalah disebabkan oleh adanya orang yang tidak berhati-hati dalam menaruh sesuatu.

Keenam adalah berbakti kepada kedua orangtua dan ini merupakan kunci utamanya sukses. Rida orangtua merupakan peran penting bagi suksesnya kehidupan seorang penuntut ilmu.

Ketujuh, tidak boleh bersikap sombong (lam yakun jabbaaron). Maka, banyaknya ilmu yang seseorang miliki, tidak boleh menjadikan dirinya sombong, bahkan seharusnya semakin banyak ilmu yang dimilikinya, maka semakin merendah. Pepatah mengatakan. orang berilmu itu seperti pohon padi, semakin berisi maka dia akan semakin merunduk.

Kedelapan yakni tidak melanggar aturan. Di mana pun tempat kita menuntut ilmu pasti ada peraturannya. Maka, patuhi peraturan tersebut. Tidak ada aturan yang dibuat dengan tujuan yang buruk, sudah pasti aturan-aturan dibuat adalah untuk kebaikan.

Generasi pertama yang memiliki gelar Rabbi Radhiyah ini adalah putra dari Nabi Zakariya, yakni Nabi Yahya alaihissalam.

Nabi Zakariya diuji oleh Allah dengan ujian tidak dikaruniai anak setelah berpuluh-puluh tahun menikah. Zakariya terus berdoa kepada Allah sampai akhirnya Allah kabulkan doanya, dikaruniakanlah seorang anak ketika Zakariya sudah berumur 120 tahun.

Anak tersebut oleh Allah diberi nama Yahya, dan dialah satu-satunya manusia yang diberi nama langsung oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Barakallahu lii walakum. (@fen/sumber: minanews.net) **

Minggu, 02 Agustus 2020

4 Faktor yang Bisa Datangkan Kemiskinan Menurut Alquran

Salah satu potret kemiskinan di ibu kota./ ilustrasi/republika.co.id/ist.

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com - Sumber kemiskinan lumrahnya berasal dari permasalahan struktural yang bisa terjadi karena beberapa hal sebagaimana termaktub juga dalam Kitab Suci. 

Pertama, kemiskinan bisa jadi karena ada gejolak eksternal misalnya peperangan atau bencana alam sehingga suatu kaum yang tadinya sejahtera bisa dengan seketika menjadi miskin (misal kisah kaum Saba’ QS Saba (34):15-16 

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Mahapengampun".  Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr."

Kedua, proses pemiskinan bisa pula secara gradual yaitu daya dukung alam terhadap manusia terus berkurang akibat degradasi lingkungan karena kerusakan yang sebagian besar diakibatkan ulah manusia sendiri 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS 30:41) 

Ketiga, kemiskinan bisa pula terjadi karena eksploitasi sebagian manusia atas manusia lain, misalnya perbuatan zalim dengan memakan harta orang lain secara batil. 

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,” (QS At-Taubah (9):34). 

Kemiskinan kemudian bisa semakin diperparah dengan rendahnya solidaritas golongan kaya sehingga si miskin sulit mampu keluar dari kemiskinannya. Si kaya terus mengumpulkan harta benda lalu hanya menyimpannya saja (QS 70:18).

Keempat, kemiskinan timbul akibat konsentrasi kekuasaan, ketimpangan pendidikan, dan sumber daya ekonomi di mana ke kayaan hanya beredar di sekelompok kecil masyarakat. Mung kin pelajaran kronisme Fir’aun, Haman, Qarun yang menindas dan memiskinkan rakyat Mesir bisa dijadikan contoh (QS Al-Qashash (28):1-88). (@fen) ** 

Kamis, 23 Juli 2020

Khutbah Jumat: Resep dari Allah agar Tak Terpapar Virus Godaan Setan

Oleh F. Syarifuddin C

ALLAH SWT berfirman dalam Alquran yang artinya kurang lebih:

"Pada hari ketika manusia-manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap diri dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkan mereka." (QS Surat Abasa 34 - 37)

Begitulah  gambaran pada hari kiamat yang waktunya tidak diketahui tibanya, tetapi gambarannya sebagaimana telah diterangkan dalam ayat Alquran di atas. Bahwa ketika datang kiamat, setiap orang hanya bisa mengurusi dirinya sendiri dalam keadaan sibuk tak keruan, paknik, tak tahu apa yang harus dilakukan karena keadaannya sungguh mendadak. 

Jauh dengan saudara dan handai tolan, apalagi dengan orang lain, bahkan dengan anak dan istri, dengan ayah dan ibu, bakal saling berpisah menyelamatkan diri karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk saling tolong.

Keadaan seperti itu takk ubahnya kita menghadapi pandemi corona saat ini. Betapa tidak, semua orang di mana pun berada tengah asyik menikmati kehidupan normal, entah itu yang sedang mencari nafkah, yang ke kantor, yang mengajar, yang menjadi pemimpin, yang sedang menghibur lewat kreasi seni budaya, dan sebagainya, semuanya terkesima, mendapati amuk corona tanpa ampun. 

Bahkan yang lebih memprihatinkan bagi kita sebagai muslim, saf salat berjemaah juga yang mestinya rapat tak boleh ada celah, harus direnggangkan alias berjarak. Demikian pula tidak boleh berkumpul, tetapi harus saling berjauhan.
Yang dipikirkan setiap orang di musim pandemi corona ini tak ada lagi kecuali kewajiban menjaga diri masing-masing. Ya, agar virus corona tidak terpapar kepada dirinya atau memaparkan kepada orang lain.

Keadaan seperti ini datang secara tiba-tiba, tak ada pemberitahuan atau pengumuman dari siapa pun termasuk pemerintah, sungguh sangat mendadak. Walaupun sekarang orang-orang sudah merasa terbiasa seolah sudah begitu akrab dengan ancaman virus corona atau Covid-19 yang memang misteri tetapi ada meski tak tahu persis di mana adanya. 

Melihat kenyataan seperti itu ya tidak ada jalan lain kecuali harus waspada atau berhati-hati. 
Ya, corona tidak kasat mata, tetapi ada dan terasa oleh orang yang terpapar terbukti dia sakit lalu dirawat oleh pemerintah. Lalu setelah dirawat ada yang sembuh kembali, alhamdulillah, tetapi ada pula yang tidak tertolong hingga ribuan orang untuk di negara kita, sedunia sudah jutaan.

Kalau dipikir lebih dalam lagi hal itu tidak berbeda dengan virus kehidupan kita sehari-hari yang juga tidak terlihat tetapi ada buktinya, ada akibatnya. Apa pula itu?  Yaitu virus godaan sétan atau iblis laknatullah, musuh nyata manusia. Bukankah si iblis  mah tidak terlihat fisiknya, tidak tampak raganya, tetapi godaannya ada jejaknya pada kelakuan-kelakuan manusia yang buruk yang barangkali kita juga terkena.

Sekarang, untuk mengatasi virus corona  diusahakan membuat vaksin di mana-mana, termasuk di negara kita. Kita berharap vaksin itu segera ada dan bisa digunakan dengan mujarab sehingga bisa mengatasi ancaman virus corona yang ganas tersebut serta kita semua hidup dalam keadaan normal seperti sedia kala.

Lalu bagaimana mengatasi virus godaan setan, apakah ada vaksinnya? Tentu saja ada karena seperti penyakit lahir yang menurut keterangan pasti ada obatnya, nah penyakit batin akibat virus sétan juga ada obatnya. Bahkan sangat banyak dan gratis asal kita rajin mencarinya dengan cara mencari ilmu. Ini salah satunya yaitu yang termaktub dalam Alquran yang  artinya kurang lebih:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang kayu bakarnya manusia dan batu, yang menjaganya malaikat-malaikat yang galak dan keras.." (Surat At Tahrim: 6)

Nah inilah salah satu resep dari Allah agar kita tidak terpapar virus godaan setan.

Barakallaahu lii walakum, Aamiin. **

Minggu, 19 Juli 2020

KISWAH (Kisah dan Uswah) Bag. 3: ADAM BERJODOH

Ilustrasi Kakbah./net.

Dikisah ulang oleh Fendy Sy. Citrawarga

SESUDAH Allah SWT menciptakan Adam, lalu Dia menciptakan Siti Hawa (manusia berjenis perempuan pertama). Siti Hawa diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk Adam dengan sosok rupawan nan cantik tiada tanding. 
Busana surgawi tampak lebih mempercantik pesona Siti Hawa. Berikut perhiasan-perhiasan yang menempel di tubuhnya tak ayal lagi kian menambah kecantikannya.
Mendapat teman di surga, Adam tentu saja sangat bahagia. Dia tidak sendiri lagi, melainkan ada teman pengusir sepi.
Kebahagiaan Adam lebih-lebih ketika tak lama kemudian keduanya dipanggil oleh Penguasa Surga yang telah menciptakan keduanya, yakni Allah SWT. 
Dikira ada apa, ternyata ada kabar gembira yang kalau meminjam bahasa Sunda tak ubahnya "nu kagunturan madu kaurugan menyan konéng". 
Bagaimana tidak, sebab saat itu pula Adam berjodoh dengan Siti Hawa.  Tentu saja agar dalam pergaulan keduanya diridai oleh Allah yang kalau istilah sekarang kita kenal dengan sebutan menikah dengan ketetuan syara sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah SWT dan RasulNya.
Jadi, ketika menjalin kasih menambat rasa sayang di antara keduanya yang telah Allah ciptakan sejenis nafsu berahi di dalam tubuh keduanya, tetap berada dalam koridor kesucian melalui jalinan pertikahan tersebut yang tentu saja saat itu syariat yang diterapkan Allah hanya berlaku untuk keduanya.
Hal itu dapat dimengerti karena keduanya berada di dalam tempat kesucian yang disebut jannatunna'im, bukan neraka jahannam.
Tampaknya barangkali pengantin pertama dari golongan manusia itu   adalah Adam dan Siti Hawa, tentu saja harus tetap ada di setiap manusa yang mengaku muslim/muslimat bahwa di dalam mengesahkan hubungan berahi, hubungan biologis, harus terikat oleh tali pertikahan agar tidak termasuk zina yang dilarang oleh agama.
Setelah resmi menjadi suami-istri, kedua mempelai disuruh kerasan tinggal di surga yang merupakan tempat sarat aneka kanikmatan. Makanan, minuman, dan segala macam yang diinginkan sudah tersedia.
Singkatnya, ingin makan tinggal santap, tak harus susah-susah mencari uang untuk beli makanan, ingin minum tinggal menuang dari wadah yang telah tersedia berikut rasanya yang superlezat. 
Sudah begitu oleh Sang Pemilik surga dengan segala isinya itu disuruh-suruh jangan ragu dan tak usah bayar. Dalam Alquran tercatat:
"Wahai Adam, silahkan Anda dan istri Anda diami surga. Silakan santap berbagai macam makanan yang banyak dan lezat di mana saja kalian inginkan. Hanya, jangan sekali-kali mendekati satu pohon yang bakal menimbulkan Anda tergolong orang zalim." (Al Baqarah ayat 35). (bersambung)
_______________

PANGAN (Pantun Renungan)

"Belanja di akhir pekan,
bawa kardus juga panci.
Apa saja boleh makan,
halal harus jadi kunci." **

Sabtu, 18 Juli 2020

Pesan Antirasis dalam Islam Sejak 14 Abad Lalu (2)


Ilustrasi muslim./pexels/by rm/via viva

SEPERTI halnya gerakan revolusioner lain, Islam awalnya menghadapi perlawanan sengit dari banyak elite.

Suku Quraisy, misalnya, yang mengendalikan perdagangan di Mekah – bisnis yang sangat menguntungkan bagi mereka, tidak mau melepas gaya hidup nyaman yang mereka bangun di atas punggung orang lain, terutama budak yang mereka bawa dari Afrika.

Pesan Nabi tentang egalitarianisme cenderung menarik bagi “orang-orang yang tidak diinginkan” – orang-orang dari masyarakat pinggiran.

Umat Islam awal mencakup pemuda-pemuda dari suku yang kurang berpengaruh yang ingin lepas dari stigma dan budak-budak yang dijanjikan pembebasan dengan memeluk Islam.

Perempuan, yang dinyatakan setara dengan laki-laki di Alquran, juga menganggap pesan Muhammad sangat menarik. Namun, potensi kesetaraan gender dalam Islam kemudian akan dikompromikan oleh kebangkitan masyarakat patriarki.

Pada saat Nabi Muhammad wafat pada 632 H, Islam telah membawa transformasi mendasar bagi masyarakat Arab, meski tidak pernah sepenuhnya menghapus hirarki kesukuan di wilayah ini.

Lepas dari derita

Pada awalnya, Islam juga menjadi daya tarik bagi orang non-Arab, orang luar yang tidak punya banyak pengaruh dalam masyarakat tradisional Arab.

Ini termasuk Salman al-Farisi yang melakukan perjalanan ke semenanjung Arab untuk mencari kebenaran religius, Shuhaib ar-Rumi seorang pedagang, dan seorang budak dari Ethiopia yang bernama Bilal.

Ketiganya menjadi terkenal dalam Islam selama masa hidup Muhammad. Kekayaan Bilal yang jauh membaik menggambarkan bagaimana egalitarianisme yang diberitakan oleh Islam mengubah masyarakat Arab.

Sebagai seorang hamba yang diperbudak seorang aristokrat Mekah bernama Umayya, Bilal dianiaya oleh pemiliknya karena memeluk agama baru.

Umayya meletakkan batu di dada Bilal, mencoba mencekiknya sampai ia bersedia meninggalkan Islam.

Tergerak oleh penderitaan Bilal, teman Muhammad sekaligus orang kepercayaannya Abu Bakar yang akan memimpin masyarakat Muslim setelah kematian Nabi, membebaskannya.

Bilal sangat dekat dengan Muhammad. Pada 622, Nabi menunjuknya sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan sebagai pengakuan atas suaranya yang kuat dan indah dan kesalehannya.

Bilal kemudian menikahi seorang perempuan Arab dari suku yang terhormat, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang Afrika yang diperbudak pada periode pra-Islam.

Black lives matter

Bagi banyak orang Muslim modern, Bilal adalah simbol pesan egaliter Islam, yang dalam penerapan idealnya mengakui tidak ada perbedaan di antara manusia atas dasar etnis atau ras, tapi lebih mengutamakan integritas pribadi.

Salah satu surat kabar milik orang Muslim kulit hitam terkemuka di Amerika Serikat, yang diterbitkan antara tahun 1975 dan 1981, dinamai The Bilalian News.

Baru-baru ini Yasir Qadhi, Dekan Islamic Seminary of America, di Texas, mengatakan bahwa Muslim Amerika – kelompok yang akrab dengan diskriminasi – “harus memerangi rasisme, apakah itu dengan pendidikan atau dengan cara lain.”

Banyak Muslim di AS mengambil tindakan, mendukung gerakan Black Lives Matter, dan memprotes kebrutalan polisi dan rasisme sistemis.

Tindakan mereka mencerminkan pesan egaliter revolusioner – dan masih belum terwujud – yang ditetapkan Nabi Muhammad lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai landasan iman Islam.

Tindakan mereka mencerminkan pesan egaliter revolusioner – dan masih belum terwujud – yang ditetapkan Nabi Muhammad lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai landasan iman Islam. (Asma Afsaruddin, Professor of Islamic Studies and former Chairperson, Department of Middle Eastern Languages and Cultures, Indiana University). Sumber asli artikel ini dari The Conversation/Sumber situs: Voxpop Indonesia. @fen