INFO KEMITRAAN

Info aneka kebutuhan barang Anda, klik tautannya di sini Showcase Fendy Sy. Citrawarga. https://vt.tiktok.com/ZS6f5nX7Y/?page=Mall

Sabtu, 15 Agustus 2020

Yang Mendapat Cahaya Ilahi di Balik Jeruji Besi (1)

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com - Islam adalah agama dengan pertumbuhan terpesat di Amerika Serikat. Pew Research pernah menelitinya di tahun 2007, 2011, dan 2017 dengan menggunakan data sensus pemerintah. Hasilnya, sebagaimana dilaporkan CNN, populasi muslim bisa menjadi komunitas relijius terbesar kedua di Paman Sam dalam dua dekade ke depan.

Tahun lalu ada 3,45 juta muslim di AS. Jika tren pertumbuhannya bertahan, pada tahun 2050 jumlahnya akan meningkat jadi 8,1 juta jiwa. Populasi muslim akan melampaui populasi orang Yahudi yang kini jadi kelompok pemeluk agama terbesar kedua di AS.

Pertumbuhan yang pesat tak hanya terjadi di kalangan warga penikmat kebebasan, tetapi juga yang berada di balik jeruji besi. Banyak laporan yang mengonfirmasi tren ini dalam beberapa tahun, bahkan dekade belakangan. 

Merujuk Bloomberg tahun lalu, misalnya, kini populasi napi muslim mencapai 18 dari total napi di AS. Dari seluruh proses pindah keyakinan yang dicatat otoritas penjara, 80 persennya pindah ke Islam.

Pew Research pada 2012 menyebutkan bahwa napi muslim membentuk sekitar 9 persen dari total 1,6 juta narapidana di penjara negara dan federal di AS. Lebih tinggi ketimbang catatan Biro Penjara AS yang pada 1997 menyatakan ada 7.27 persen napi muslim dari total seluruh tahanan di penjara federal AS.

Ada orang yang khusus menangani hak beribadah napi di AS yang kerap diistilahkan dengan “chaplain” atau pendeta. Dalam riset Pew Research mereka diminta untuk menyebutkan kondisi para pemeluk agama di penjara-penjara Amerika sehingga dapat dianalisis secara kuantitatif tingkat pertumbuhan, stagnasi, atau penurunan jumlahnya.

Sebanyak 51 persen responden menyatakan Islam adalah agama dengan jumlah pemeluk paling pesat berkembang. Di posisi kedua ada Protestan dengan 47 persen. Berturut-turut di bawahnya ada pengikut pagan (34 persen), spriritual suku asli Amerika (24 persen), Yahudi (19 persen), Katolik (14 persen), tidak terafiliasi (12 persen), Buddha (12 persen), Mormon (3 persen), Kristen Ortodok (3 persen), dan Hindu (1 persen).

The Australian pernah melaporkan bahwa sepanjang tahun 2001 hingga 2014 diestimasikan ada seperempat dari satu juta tahanan di AS yang masuk Islam. Jumlahnya berarti sekitar 250.000 orang. Sementara Shrenn Khan dari Al Jazeera pada awal April kemarin menyoroti fenomena ini dengan menyebutkan bahwa jumlah napi muslim di AS kini mencapai 10-15 persen dari total napi.

Tuntut Hak, Lawan Diskriminasi

Shreen Khan lalu menelaah lebih dalam melalui salah satu penjara yakni California Departement of Corrections and Rehabilitation. Ia bertemu dengan imam para napi muslim bernama Muhammad Ali. Ali mengatakan ada satu hingga dua napi yang masuk Islam hampir tiap bulannya. Agama dianggap penting bagi napi karena menghubungkan mereka dengan hal yang lebih besar dibanding situasi yang sedang mereka hadapi.

“Di penjara kamu tak bisa mengontrol banyak hal. Memeluk Islam menyediakan kesempatan bagi napi untuk memikirkan tentang rehabilitasi. Berpikir tentang arti kehidupan. Tentang akan menjadi manusia seperti apa nantinya, saat masih berada di balik jeruji besi maupun setelah bebas.”

Persoalannya, lanjut Ali, tidak semua penjara ramah terhadap Islam atau pemeluknya. Era yang diskriminatif bagi napi-napi Muslim terjadi pada dekade 1970-an. Pada 1996 beberapa napi Muslim melayangkan tuntutan demi terpenuhinya akses terhadap layanan agama. Termasuk di antaranya minta disediakan seorang imam dan kesempatan menghadiri salat jumat tanpa dibayang-bayangi hukuman penalti.

Tuntutannya dikabulkan. Namun, otoritas penjara kala itu berdalih bahwa pihaknya tak pernah memberlakukan larangan bagi para napi untuk menjalankan keyakinannya. Permasalahan yang sebenarnya, lanjut mereka, sekadar terkait administrasi.

Meski akses sudah lebih terbuka, perjuangan melawan diskriminasi belum selesai. Data riset Institute for Social Policy and Understanding (ISPU) bulan Januari 2013 (PDF) menyatakan bahwa laporan diskriminasi atas dasar agama di penjara AS sepanjang 2005 dan 2007 berasal dari napi muslim. Mereka juga sekaligus kelompok pemohon akomodasi relijius terbesar dari 1997 ke 2008.

Napi-napi muslim meneladani semangat Malcolm X, tokoh muslim kulit hitam Amerika yang aktif membela hak asasi manusia. Ia pernah dipenjara pada tahun 1946, kala usianya menginjak 20 tahun. Di balik jeruji besi, tepatnya pada tahun 1952, dan bergabung menjadi anggota organisasi Nation of Islam. (bersambung/@fen/sumber: tirto.id) **

Tausiah: Penyesalan Mereka yang Memilih Jalan Bengkok


Ilustrasi./hidayatullah.com/ist. 

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com -  Allah Taala telah menyediakan dua jalan kepada manusia, yakni jalan yang lurus dan jalan yang bengkok. Manusia dipersilahkan memilih. Bebas! Namun, ada konsekuensi atas pilihan tersebut.

Tentang kedua jalan ini, telah diperkenalkan oleh Allat Taala kepada manusia lewat perantaraan para nabi dan rasul. Manusia yang melakukan proses “iqra” akan mengetahui dengan jelas kedua jalan ini beserta konsekuensinya, termasuk bagaimana kesudahan para pemilih jalan bengkok.

Para pemilih jalan bengkok ini akan menyesal teramat dalam. Mereka memohon kepada Allah Taala untuk dikembalikan ke dunia agar bisa memilih jalan yang lurus. Namun, penyesalan mereka sudah tak ada gunanya lagi.

Tentang hal ini, Allah Taala berfirman dalam al-Quran surat Fatir (35) ayat 37 bahwa kelak para pemilih jalan bengkok ini akan berteriak di dalam neraka. Kata mereka, 

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan dahulu.”

Lalu Allah Taala berkata kepada mereka, 

“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir? Padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.”

Sebenarnya, Allah Taala telah membukakan pintu ampunan kepada orang-orang yang memilih jalan bengkok asalkan mereka menyadari kekeliruannya dan bertaubat dengan sebenar-benar taubat.

Ini dinyatakan oleh Allah Taala dalam al-Quran surat Az-Zumar (39) ayat 53, 

“… Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Imam Ahmad menceritakan tentang ayat ini bahwa suatu ketika seorang sahabat Rasulullah saw. bernama Tsauban mendengar Rassulullah saw. bersabda, 

“ 'Aku tidak suka bila diberikan kepadaku dunia dan seisinya sebagai ganti dari ayat ini', yaitu 'Katakanlah wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri …' hingga akhir ayat. Lalu ada seorang laki-laki bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang musyrik?' Rasulullah saw. terdiam, lalu bersabda, 'Ingatlah, dan juga terhadap orang-orang musyrik'. Beliau mengulanginya hingga tiga kali."

Selanjutnya, dalam surat Az-Zumar (39) ayat 54 dan 55, Allah Taala berfirman, 

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Alquran) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya.”

Lalu, dalam ayat 56, 57, dan 58, surat Az-Zumar (39), Allah Taala kembali mengingatkan manusia agar jangan sampai kelak menyesal dengan mengatakan, 

“Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang mengolok-olokkan (agama Allah).”

Atau, mengatakan, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa,” Atau, berkata setelah melihat azab di depan mata, “Sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), tentu aku termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Lalu, rangkaian ayat ini ditutup dengan firman Allah Ta’ala, “Sungguh, sebenarnya keterangan-keterangan-Ku telah datang kepadamu. Tetapi kamu mendustakannya, malah kamu menyombongkan diri dan termasuk orang kafir.” (Az-Zumar (39): 59)

Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang menyesal sebagaimana digambarkan oleh Allah Taala dalam rangkaian ayat-ayat tadi. (@fen/sumber:hidayatullah.com) **



Jumat, 14 Agustus 2020

Khutbah Jumat: Jangan Takut Tak Dapat Rezeki

Ilustrasi./minanews.net/ist.

Oleh Ali Farkhan Tsani

KITA sebenarnya tidak sedang mencari rezeki. Tapi menjemput rezki. Rezekinya sudah ada, sudah Allah tentukan. Tinggal kita jemput. Yang kita lakukan adalah mencari berkahnya dari rezeki itu.

Kita jangan takut dapat atau tidak dapat rezeki. Karena itu semua sudah ada dalam jaminan Allah. Yang penting adalah justru apakah kita dapat berkahnya atau tidak? Berkah itu karena halal caranya dan halal zatnya.

Jadi, kita ikhtiar jangan takut tidak dapat rezeki. Tapi takutlah tidak dapat rida Ilahi.

Wilayah kita adalah meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar dan memperkuat doa. Jangan risau tidak dapat rezeki yang itu sudah dijamin Allah. Tapi risaulah kalau tidak dapat rida Allah.

Pernahkah kita tidak minum dalam sehari saja? Atau tidak bernafas satu jam saja? Ternyata banyak rezeki yang datang sendiri. Air minum, udara, semua rezki dari Allah.

Bahkan saat kita di dalam kandungan ibu. Apakah kita mencari rezeki? Ternyata tidak. Rezekilah yang mendatangi kita.

Sekarang yang terpenting adalah kita kerja yang benar. Benar niatnya, benar pula caranya. Kalau dapat rezeki, kita bersyukur. Kalau tidak dapat atau belum sesuai harapan, ya kita bersabar.

Soal jaminan Allah dalam hal rezeki, di antaranya terdapat di dalam Surat Hud (11) Ayat 6:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).”

Berkaitan dengan ayat ini, Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa seluruh rezeki dan ketentuannya hanya Allah yang semata-mata memilikinya. Simpanan rezeki tersebut adalah di tangan Allah. Allah-lah yang memberi pada siapa yang Allah kehendaki, Allah pula yang menghalangi rezeki tersebut pada yang lain sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya yang luas.

Bukan berarti juga berpangku tangan dan meminta-minta. Namun tetap maksimalkan ikhtiar, doa  dan tawakkal. Ikhtiar itu fisikal. Doa itu lisan. Tawakkal itu jiwanya.

Berkaitan dengan ini, ada satu doa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ajarkan kepada kita agar kita merasa cukup dengan rezeki yang halal. Sehingga tidak perlu lagi menambah dengan yang haram. Sehingga tidak perlu lagi kita berbuat korup, menipu, menzalimi atau memakan riba.

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Artinya: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR At-Tirmidzi).

Hal lainnya adalah kita seringkali menyebut rezeki itu hanya yang bersifat materi, kasat mata, seperti uang, makanan, benda-benda, dsb. Namun justru ada rezeki dalam bentuk lain yang sering kita lupakan, yaitu rezeki dalam bentuk nikmat kesehatan, kelapangan waktu, ketekunan beribadah, nikmat Islam dan iman.

Kita dapat bertadarus satu hari satu juz, itu rezeki yang luar biasa. Kita konsisten salat lima waktu berjemaah, jangan lupa itu pun rezeki tak terkira. Kita memiliki anak yang tekun menghafal ayat-ayat Alquran, gemar ke masjid salat berjemaah, berbakti kepada orang tua. Itu pun sungguh rezeki sangat besar.

Semoga Allah cukupkan kita dengan rezeki yang halal, thayyib, berkah, mudah lagi melimpah. Aamiin. (@fen/sumber: minanews.net)**

Rabu, 12 Agustus 2020

6 Orang yang Doanya Selalu Diterima Allah SWT


Ilustrasi/eramuslim/ist. 

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com. -  NABI Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap kali seseorang berdoa karena Allah Subhanahu wa ta’ala, maka Allah akan menerima permohonannya atau menghindarkan masalah yang datang.

Jika orang tersebut berdoa sesuatu yang tidak dapat diterima dalam syariat Islam atau melanggar aturan, maka tidak diterima dengan cara apa pun.

Berikut ini enam jenis orang yang doanya selalu diterima Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dikutip dari The Islamic Information, Kamis (11/6).

1. Doa orang sakit

Di antara doa yang mustajab adalah doa yang dipanjatkan dari seseorang ketika dalam kondisi lemah, terpepet, terdesak, yang sangat membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka itu, doa mereka lebih mustajab dibandingkan doa mereka yang sehat dan dalam keadaan longgar.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Artinya: “Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan." (QS An-Naml: 62)

Kita semua tahu, orang sakit termasuk di antara mereka. Ibnu Allan menjelaskan mengapa doa orang sakit lebih mustajab.

وذلك لأنّه مضطر ودعاؤه أسرع إجابةً من غيره

Artinya: “Karena orang sakit termasuk orang yang terdesak. Dan doanya lebih cepat diijabahi daripada yang lainnya.” (Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah, Syarh Al-Adzkar An-Nawawiyah, 4/92).

2. Doa orang yang berpuasa

Doa orang yang berpuasa berfungsi seperti pesona. Banyak ulama menyebut waktu puasa sebagai momen emas untuk berdoa.

An-Nawawi menjelaskan:

ﻳﺴﺘﺤﺐّ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮ ﻓﻲ ﺣَﺎﻝِ ﺻَﻮْﻣِﻪِ ﺑِﻤُﻬِﻤَّﺎﺕِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻪُ ﻭَﻟِﻤَﻦْ ﻳُﺤِﺐُّ ﻭَﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

Artinya: “Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa sepanjang waktu puasanya (selama ia berpuasa) dengan doa-doa yang sangat penting bagi urusan akhirat dan dunianya, bagi dirinya, bagi orang yang dicintai dan untuk kaum muslimin.” (Syarh Al-Muhaddzab An-Nawawi)

3. Doa ayah untuk anaknya

Biasanya seorang ibu yang banyak berdoa untuk anak-anaknya, tetapi ternyata ayah juga bisa. Sebab setiap kali seorang ayah berdoa untuk anak-anaknya akan diterima.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orangtua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR Abu Daud Nomor 1536. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini hasan).

4. Doa orang dari tempat jauh

Doa yang dipanjatkan seseorang untuk orang lain dari tempat yang jauh tidak akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan pasti dijawab.

Dari Abu Darda berkata bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ لأَِخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوْكِلُ بِهِ آمِيْنَ وَلَكَ بِمِثْلِ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata: ‘Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan’.” (Sahih Muslim, Kitab Doa wa Dzikir bab Fadli Doa fi Dahril Ghalib)

5. Doa orang yang dianiaya

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Artinya: “Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada penghalang antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan).” (Shahih Muslim, kitab Iman 1/37–38)

6. Doa orang yang bepergian

Allah Subhanahu wa ta’ala akan menerima doa orang yang sedang bepergian (safar).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Artinya: “Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan: doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orangtua terhadap anaknya.” (Sunan Abu Daud, Kitab Sholat bab Doa bi Dhahril Ghaib 2/89. Sunan At-Tirmidzi, Kitab Al Bir bab Doaul Walidain 8/98-99. Sunan Ibnu Majah, Kitab Doa 2/348 Nomor 3908. Musnad Ahmad 2/478. Dihasankan Al Albani dalam Silsilah Shahihah Nomor 596).  (@fen/eramusim.com/okz) **

Kamis, 06 Agustus 2020

Khutbah Jumat: Delapan Kunci Utama Wujudkan Generasi “Rabbi Radhiyah”

Ilustrasi./minanews.net/ist.

MENJADIKAN atau mewujudkan akhlak anak-anak sebagai generasi penerus  yang diridai oleh Allah atau dalam Alquran dikatakan generasi "rabbi radhiyah" merupakan cita-cita seluruh orangtua muslim.

Dalam Alquran Surat Maryam ayat 12-15 dijelaskan;

یَـٰیَحۡیَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَـٰبَ بِقُوَّةࣲۖ وَءَاتَیۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِیࣰّا ١٢. وَحَنَانࣰا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةࣰۖ وَكَانَ تَقِیࣰّا ١٣. وَبَرَّۢا بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ وَلَمۡ یَكُن جَبَّارًا عَصِیࣰّا ١٤. وَسَلَـٰمٌ عَلَیۡهِ یَوۡمَ وُلِدَ وَیَوۡمَ یَمُوتُ وَیَوۡمَ یُبۡعَثُ حَیࣰّا .١٥

Artinya: “(12) Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. (13) Dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa. (14) Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka. (15) Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS Maryam 12-15).

Menurut Imaamul Muslimin, KH. Yakhsyallah Mansur, MA., paling tidak ada delapan kunci utama untuk menjadikan generasi Rabbi Radhiyah.

Kunci pertama yaitu harus berpegang pada Alquran karena semua petunjuk sudah terdapat di dalam Alquran. Pegang erat Alquran dan sungguh-sungguh.

Kedua adalah belajar sungguh-sungguh. Ketika seseorang belajar dengan sungguh-sungguh, insyaallah hasilnya akan maksimal dan sesuai dengan Alquran. Sebaliknya jika belajarnya main-main,  hasilnya tidak akan baik, dan ini bisa menjadi perusak bangsa.

Kunci ketiga yaitu mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesama dan juga rasa empati dan simpati. Saling menyayangi akan menimbulkan rasa tenang dalam jiwa dan Allah akan meridai kepada orang yang punya rasa kasih sayang terhadap sesama.

Keempat menjaga kebersihan. Kalau dalam Alquran disebut “zakah”, maka indah dan nyamannya suatu tempat dilihat dari kondisi kebersihannya. Apabila bersih, pasti akan timbul rasa nyaman.

Kelima yakni berhati-hati. Jangan sembarangan menaruh barang karena timbulnya kerugian adalah disebabkan oleh adanya orang yang tidak berhati-hati. Adanya orang yang suka mengambil barang milik orang lain adalah disebabkan oleh adanya orang yang tidak berhati-hati dalam menaruh sesuatu.

Keenam adalah berbakti kepada kedua orangtua dan ini merupakan kunci utamanya sukses. Rida orangtua merupakan peran penting bagi suksesnya kehidupan seorang penuntut ilmu.

Ketujuh, tidak boleh bersikap sombong (lam yakun jabbaaron). Maka, banyaknya ilmu yang seseorang miliki, tidak boleh menjadikan dirinya sombong, bahkan seharusnya semakin banyak ilmu yang dimilikinya, maka semakin merendah. Pepatah mengatakan. orang berilmu itu seperti pohon padi, semakin berisi maka dia akan semakin merunduk.

Kedelapan yakni tidak melanggar aturan. Di mana pun tempat kita menuntut ilmu pasti ada peraturannya. Maka, patuhi peraturan tersebut. Tidak ada aturan yang dibuat dengan tujuan yang buruk, sudah pasti aturan-aturan dibuat adalah untuk kebaikan.

Generasi pertama yang memiliki gelar Rabbi Radhiyah ini adalah putra dari Nabi Zakariya, yakni Nabi Yahya alaihissalam.

Nabi Zakariya diuji oleh Allah dengan ujian tidak dikaruniai anak setelah berpuluh-puluh tahun menikah. Zakariya terus berdoa kepada Allah sampai akhirnya Allah kabulkan doanya, dikaruniakanlah seorang anak ketika Zakariya sudah berumur 120 tahun.

Anak tersebut oleh Allah diberi nama Yahya, dan dialah satu-satunya manusia yang diberi nama langsung oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Barakallahu lii walakum. (@fen/sumber: minanews.net) **

Minggu, 02 Agustus 2020

4 Faktor yang Bisa Datangkan Kemiskinan Menurut Alquran

Salah satu potret kemiskinan di ibu kota./ ilustrasi/republika.co.id/ist.

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com - Sumber kemiskinan lumrahnya berasal dari permasalahan struktural yang bisa terjadi karena beberapa hal sebagaimana termaktub juga dalam Kitab Suci. 

Pertama, kemiskinan bisa jadi karena ada gejolak eksternal misalnya peperangan atau bencana alam sehingga suatu kaum yang tadinya sejahtera bisa dengan seketika menjadi miskin (misal kisah kaum Saba’ QS Saba (34):15-16 

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Mahapengampun".  Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr."

Kedua, proses pemiskinan bisa pula secara gradual yaitu daya dukung alam terhadap manusia terus berkurang akibat degradasi lingkungan karena kerusakan yang sebagian besar diakibatkan ulah manusia sendiri 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS 30:41) 

Ketiga, kemiskinan bisa pula terjadi karena eksploitasi sebagian manusia atas manusia lain, misalnya perbuatan zalim dengan memakan harta orang lain secara batil. 

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,” (QS At-Taubah (9):34). 

Kemiskinan kemudian bisa semakin diperparah dengan rendahnya solidaritas golongan kaya sehingga si miskin sulit mampu keluar dari kemiskinannya. Si kaya terus mengumpulkan harta benda lalu hanya menyimpannya saja (QS 70:18).

Keempat, kemiskinan timbul akibat konsentrasi kekuasaan, ketimpangan pendidikan, dan sumber daya ekonomi di mana ke kayaan hanya beredar di sekelompok kecil masyarakat. Mung kin pelajaran kronisme Fir’aun, Haman, Qarun yang menindas dan memiskinkan rakyat Mesir bisa dijadikan contoh (QS Al-Qashash (28):1-88). (@fen) ** 

Kamis, 23 Juli 2020

Khutbah Jumat: Resep dari Allah agar Tak Terpapar Virus Godaan Setan

Oleh F. Syarifuddin C

ALLAH SWT berfirman dalam Alquran yang artinya kurang lebih:

"Pada hari ketika manusia-manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap diri dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkan mereka." (QS Surat Abasa 34 - 37)

Begitulah  gambaran pada hari kiamat yang waktunya tidak diketahui tibanya, tetapi gambarannya sebagaimana telah diterangkan dalam ayat Alquran di atas. Bahwa ketika datang kiamat, setiap orang hanya bisa mengurusi dirinya sendiri dalam keadaan sibuk tak keruan, paknik, tak tahu apa yang harus dilakukan karena keadaannya sungguh mendadak. 

Jauh dengan saudara dan handai tolan, apalagi dengan orang lain, bahkan dengan anak dan istri, dengan ayah dan ibu, bakal saling berpisah menyelamatkan diri karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk saling tolong.

Keadaan seperti itu takk ubahnya kita menghadapi pandemi corona saat ini. Betapa tidak, semua orang di mana pun berada tengah asyik menikmati kehidupan normal, entah itu yang sedang mencari nafkah, yang ke kantor, yang mengajar, yang menjadi pemimpin, yang sedang menghibur lewat kreasi seni budaya, dan sebagainya, semuanya terkesima, mendapati amuk corona tanpa ampun. 

Bahkan yang lebih memprihatinkan bagi kita sebagai muslim, saf salat berjemaah juga yang mestinya rapat tak boleh ada celah, harus direnggangkan alias berjarak. Demikian pula tidak boleh berkumpul, tetapi harus saling berjauhan.
Yang dipikirkan setiap orang di musim pandemi corona ini tak ada lagi kecuali kewajiban menjaga diri masing-masing. Ya, agar virus corona tidak terpapar kepada dirinya atau memaparkan kepada orang lain.

Keadaan seperti ini datang secara tiba-tiba, tak ada pemberitahuan atau pengumuman dari siapa pun termasuk pemerintah, sungguh sangat mendadak. Walaupun sekarang orang-orang sudah merasa terbiasa seolah sudah begitu akrab dengan ancaman virus corona atau Covid-19 yang memang misteri tetapi ada meski tak tahu persis di mana adanya. 

Melihat kenyataan seperti itu ya tidak ada jalan lain kecuali harus waspada atau berhati-hati. 
Ya, corona tidak kasat mata, tetapi ada dan terasa oleh orang yang terpapar terbukti dia sakit lalu dirawat oleh pemerintah. Lalu setelah dirawat ada yang sembuh kembali, alhamdulillah, tetapi ada pula yang tidak tertolong hingga ribuan orang untuk di negara kita, sedunia sudah jutaan.

Kalau dipikir lebih dalam lagi hal itu tidak berbeda dengan virus kehidupan kita sehari-hari yang juga tidak terlihat tetapi ada buktinya, ada akibatnya. Apa pula itu?  Yaitu virus godaan sétan atau iblis laknatullah, musuh nyata manusia. Bukankah si iblis  mah tidak terlihat fisiknya, tidak tampak raganya, tetapi godaannya ada jejaknya pada kelakuan-kelakuan manusia yang buruk yang barangkali kita juga terkena.

Sekarang, untuk mengatasi virus corona  diusahakan membuat vaksin di mana-mana, termasuk di negara kita. Kita berharap vaksin itu segera ada dan bisa digunakan dengan mujarab sehingga bisa mengatasi ancaman virus corona yang ganas tersebut serta kita semua hidup dalam keadaan normal seperti sedia kala.

Lalu bagaimana mengatasi virus godaan setan, apakah ada vaksinnya? Tentu saja ada karena seperti penyakit lahir yang menurut keterangan pasti ada obatnya, nah penyakit batin akibat virus sétan juga ada obatnya. Bahkan sangat banyak dan gratis asal kita rajin mencarinya dengan cara mencari ilmu. Ini salah satunya yaitu yang termaktub dalam Alquran yang  artinya kurang lebih:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang kayu bakarnya manusia dan batu, yang menjaganya malaikat-malaikat yang galak dan keras.." (Surat At Tahrim: 6)

Nah inilah salah satu resep dari Allah agar kita tidak terpapar virus godaan setan.

Barakallaahu lii walakum, Aamiin. **