INFO KEMITRAAN

Info aneka kebutuhan barang Anda, klik tautannya di sini Showcase Fendy Sy. Citrawarga. https://vt.tiktok.com/ZS6f5nX7Y/?page=Mall

Jumat, 11 Desember 2020

TAUSIAH: Kejujuran Itu Berkah, Kebohongan Musibah


Ilustrasi/republika.co.id/ist.

Bait-buat-dakwah.blogspot.com - Islam sangat menekankan kejujuran dan melarang keras kebohongan. Banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah saw. yang menegaskan hal tersebut.

Salah satu di antaranya adalah QS at-Taubah ayat 119, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)."

“Ayat ini menegaskan bahwa ketakwaan dan kejujuran itu saling berkaitan. Kejujuran punya makna atau menjadi ibadah kalau dilandasi ketakwaan. Tidak mungkin orang bertakwa kalau dia tidak jujur,” kata Guru Besar IPB, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, seperti dikutip laman republika.coid.

Kiai Didin menambahkan, ada empat sifat yang wajib dimiliki oleh para rasul. Salah satu di antaranya adalah shiddiq (benar atau jujur). Lawannya adalah dusta.

“Dusta itu bukan sifat orang yang baik/takwa. Dusta itu sifat orang yang jahat. Karena itu, orang tua, pendidik, dan pemimpin harus jujur. Hal itu sangat penting untuk melahirkan generasi mendatang yang lebih baik, dan pemimpin umat yang amanah,” paparnya.

Kiai Didin mengutip sebuah hadis Rasulullah yang menekankan pentingnya kejujuran dan mengingatkan bahaya kebohongan. 

“Berlakulah jujur, sesunguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan menghantarkan ke surga. Dan, seseorang yang senantiasa berlaku jujur akan tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah dusta. Sesungguhnya dusta akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Seseorang yang sering berdusta akan tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR Muslim).

Dari hadis di atas, kata Kiai Didin, jelaslah bahwa sumber kebaikan itu adalah kejujuran. 

“Jujur itu berkah. Kalau orang jujur, hasilnya baik. Tidak ada kebaikan tanpa kejujuran. Tidak ada prestasi yang baik tanpa kejujuran,” ujarnya.

Lebih dari itu, kejujuran akan mengantarkan seseorang masuk surga di akhirat kelak. Salah satu pintu di surga adalah Pintu Kejujuran. 

“Hendaklah kalian menjadi orang yang jujur (shiddiq). Sebab, Shiddiq merupakan salah satu pintu di surga. Hendaklah kalian menjauhi dusta, sebab dusta merupakan salah satu pintu di neraka,” tutur Kiai Didin mengutip salah satu hadis Rasulullah saw.

Ia menambahkan, ayat Alquran dan hadis di atas menegaskan, kejujuran itu memerlukan pembiasaan. 

“Apa saja yang baik perlu pembiasaan. Begitu pula, kejujuran perlu pembiasaan,” ujarnya.

 Orang tua maupun pendidik perlu menerapkan pembiasaan jujur kepada anak dan murid. Orang tua dan guru harus menjadi teladan bagi anak dan siswa menerapkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. 

“Kita harus menanamkan dalam diri anak dan murid kita bahwa jujur itu mahal. Jujur itu indah. Jujur itu tinggi. Jujur itu mulia,” paparnya.

Sebaliknya, kata Kiai Didin, setiap orang harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari sifat dan perbuatan dusta. 

“Dusta merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Karena itu, harus kita jauhi sejauh-jauhnya,” katanya.

Dusta itu, Kiai Didin menambahkan, sumber berbagai kejahatan. Dusta itu sumber kemunafikan. 

“Rasulullah SAW menegaskan, ada tiga tanda orang munafik. Salah satunya adalah kalau berbicara, dia berdusta,” tuturnya.

Kiai Didin mengemukakan, saat ini dusta sudah berubah menjadi musibah. Orang melihat pesawat jatuh, gempa bumi dan gunung meletus, sebagai musibah. 

Sebetulnya, ada musibah yang lebih besar lagi, namun tidak dianggap sebagai musibah. Apakah itu? 

“Dusta! Bencana alam  memang merupakan musibah. Namun, dusta merupakan musibah yang lebih besar lagi. Karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada kita, ‘Ya Allah, janganlah engkau jadikan musibah bagi kami dalam agama kami (yakni merajalelanya perbuatan dusta)’,” kata Prof Didin Hafidhuddin menegaskan. (@fen) **


Rabu, 09 Desember 2020

TELAAH: Mengapa Allah SWT Mempunyai Sifat Rahman dan Rahim?


Bait-buat-dakwah.blogspot.com -
Ahli Tafsir Indonesia, Prof Quraish Shihab, dalam kitab Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan tentang makna kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kedua kata itu mendominasi sifat-sifat Allah SWT lainnya sebagaimana banyak dikutip dalam Alquran.

Beliau menjelaskan, apabila seseorang mengucapkan kata ‘Allah’, maka akan terlintas atau seyogianya terlintas dalam benaknya segala sifat kesempurnaan. Allah Mahakuat, Mahabijaksana, Mahakaya, Mahaberkreasi, Mahapengampun, Mahaindah, Mahasuci, dan Mahasegalanya.

Seseorang yang mempercayai Allah, pasti meyakini bahwa Allah adalah Mahasempurna dari segala hal dan Mahasuci dari segala sifat kekurangan. Sifat-sifat Allah yang diperkenalkan cukup banyak. 

Dalam salah satu hadis dikatakan bahwa sifat atau nama-nama Allah berjumlah 99 nama/sifat. Demikian banyak nama/sifat Allah, namun yang terpilih dalam basmalah hanya dua sifat. 

Yaitu kata sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang keduanya terambil dari akar kata yang sama. Agaknya, kata beliau, kedua sifat tersebut dipilih karena sifat itulah yang paling dominan. Dalam hal ini, Allah SWT menegaskan dalam Alquran surah Al-A’raf penggalan ayat 156 berbunyi:

 ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Wa rahmati wasi’at kulla syai’in,”. Yang artinya: “Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu.” 

Maka, kedua kata tersebut, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim berakar dari kata 'rahim' yang juga telah termasuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia dalam arti ‘peranakan’. 

Apabila disebut kata rahim,  umumnya orang Indonesia akan terlintasi makna ibu dan anak. Dari sana maka terbayanglah betapa besar rasa kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada anaknya.

Namun demikian beliau menegaskan, jangan disimpulkan bahwa sifat rahmat Allah SWT sepadan dengan sifat rahmat ibu, betapapun besarnya kasih sayang seorang ibu. Karena Allah bukanlah zat yang dapat disamakan dengan makhluk atau jenis apa pun.

Di sisi lain dalam menguak sifat rahman dan rahim Allah SWT, Rasulullah bersabda dalam hadis riwayat Abu Hurairah: 


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله  ﷺ يقول: جعل الله لرحمة مائة جزء، فأمسك عنده تسعة وتسعين، وأنزل في الأرض جزءًا واحدًا، فمن ذلك الجزء يتراحم الخلائق، حتى ترفع الدابة حافرها عن ولدها خشية أن تصيبه

“Allah SWT menempatkan rahmat menjadi 100 bagian. Dia menyimpan ini satu bagian. Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk (begitu meratanya sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih sayang, khawatir jangan sampai menginjak anaknya.” 

Lebih lanjut beliau menjelaskan, curahan rahmat Allah secara aktual pun dilukiskan dengan kata Rahman, sedang sifat yang dimiliki-Nya seperti tergambar dalam hadis di atas dilukiskan dengan kata rahim. Gabungan kedua kata itu menyiratkan bahwa Allah SWT mencurahkan rahmat kepada makhluk-Nya karena memang Dia merupakan zat Yang Memiliki sifat itu.

Dengan kata Ar-Rahman maka digambarkan bahwa Allah SWT sebagai sifat yang mencurahkan rahmat yang bersifat sementara di dunia ini. Sedangkan Ar-Rahim adalah rahmat-Nya yang bersifat kekal. Rahmat-Nya di dunia yang sementara ini meliputi seluruh makhluk, tanpa kecuali dan tanpa membedakan antara mukmin dan kafir.

Sedangkan rahmat yang kekal adalah rahmat-Nya di akhirat. Tempat kehidupan yang kekal yang hanya akan dinikmati oleh makhluk-makhluk yang mengabdi kepada-Nya. Di sisi lain, para ulama sebagaimana yang dijabarkan beliau, menjelaskan makna penggabungan kata Allah dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam basmalah.

Menurut para ulama, seorang yang jika bermaksud memohon pertolongan kepada Dia yang berhak disembah dan Dia Yang Mencurahkan aneka nikmat, maka yang bersangkutan menyebut nama tergantung dari zat yang wajib wujudnya itu sebagai pertanda kewajaran-Nya untuk dimintai.

Selanjutnya menyebut sifat rahmat-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia wajar melimpahkan rahmat sekaligus wajar dimintai pertolongan dalam amal-amal kebajikan karena yang demikian itu adalah nikmat rahmat. 

Selanjutnya dinyatakan bahwa curahan rahmat-Nya adalah wajar karena Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada dirinya. (@fen/republika.co.id) ** 


Kamis, 27 Agustus 2020

KHUTBAH JUMAT: Memetik Nilai Positif dari Pandemi Corona#


KITA telah mengalami hidup dalam keadaan khawatir dan tidak bebas karena wabah corona berbulan-bulan. Sekolah dan madrasah ditutup. Salat jumat dan jemaah sehari-hari berlangsung tidak seperti biasanya. Semoga Allah Azza wa Jallam segera mengangkat wabah ini.

Kita ucapkan segala puji bagi Allah yang semua takdir yang Dia tetapkan adalah baik. Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Quran Al-Hadid: 22)

Dan juga terdapat dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Yahya Suhaib ar-Rumi, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim).

Oleh karena itu, hal yang seharusnya kita lakukan adalah mengambil nilai-nilai positif dari semua kejadian dalam kehidupan kita. Termasuk dari wabah yang mematikan ini. Yang menimpa kita sekarang. Di antara nilai-nilai positif yang bisa kita ambil adalah:

Pertama: Semakin rekatnya hubungan dengan pasangan kita dan dengan anak-anak kita.

Selama ini ayah sibuk dengan pekerjaannya. Sementara anak-anak sibuk dengan sosial media dan teman-temannya. Sekarang mereka berada di rumah. Intensitas pertemuan antara keluarga meningkat sehingga semakin rekatlah hubungan. Sedikitnya pertemuan antara orang tua dan anak tentu berdampak pada kualitas hubungan. Berdampak juga pada pendidikan dan karakter anak. 

Seringnya orang tua bertemu dengan anaknya tentu akan membuat anak merasakan kehadiran ayah. Mentalnya menjadi lebih positif. Berangkat dari sana, muncullah generasi yang positif pula. Generasi yang terbimbing dengan akhlak dan kasih sayang. Karena akhlak adalah sesuatu yang utama dalam Islam. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad).

Dan juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ

“Sesungguhnya malu adalah bagian dari iman.” (HR al-Bukhari).

Kedua: Kita bersemangat untuk tetap mengamalkan ajaran agama yang sebelum wabah kita kerjakan. Seperti tetap menjaga salat berjemaah. Menjaga salat sunah rawatib dan witir. Tetap merutinkan zikir pagi dan petang. Dan amalan-amalan lainnya.

Kita juga perhatikan keluarga kita untuk mengerjakan kewajiban sesuai dengan kadar yang dituntut oleh syariat. Karena orang tua, terutama ayah, akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Quran At-Tahrim: 6)

Kita ingatkan anak-anak kita dengan nasihat dan motivasi. Kalau sebelumnya sang ayah kurang dalam melakukan ini, maka manfaatkanlah masa-masa seperti sekarang ini.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Quran Al-Hasyr: 18)

Allah juga berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمْ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنْ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (Quran Al-Munafikun: 10-11)

Marilah kita bersegera, tidak menunda kebaikan. Manfaatkanlah kesempatan hidup yang hanya sekali ini. Sebelum datang kematian yang memutus kenikmatan.

Ketiga: Kita ajarkan diri kita, istri kita, dan anak-anak kita untuk mengingat nikmat Allah yang banyak. Mengingat nikmat kenyamanan dalam beraktivitas. Nikmat keamanan. Nikmat kepastian kondisi. Nikmat salat berjemaah di masjid. Karena sedikit banyak, kenikmatan-kenikmatan ini berkurang kadarnya di saat-saat sekarang ini. Dari sini kita bisa merasakan betapa besar dan berharganya nikmat-nikmat tersebut.

Mengingat-ingat nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita sangat bermanfaat. Baik secara agama maupun dunia. Bisa menambah keimanan dan kecintaan kepada Allah. Bisa menjadi sebab hidayah dan istiqomah. Membuat dada lapang dan melahirkan sifat qonaah (merasa cukup). Dan faidah-faidah lainnya yang sangat banyak. Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu.” (Quran Ali Imran: 103)

Dan juga firman-Nya,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu.” (Quran Al-Maidah: 7)

Yang perlu kita sadari, teguh di atas agama dan bertambahnya istiqomah adalah suatu kenikmatan. Hal itu bisa kita dapatkan dengan Kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersegera melakukan ketaatan. Serta bersegera meninggalkan hal-hal yang Allah larang baik berupa dosa besar maupun dosa kecil.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ

“Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang menurut pandangan kalian lebih kecil dari sehelai rambut, namun kami menganggapnya di zaman Nabi sebagai perbuatan yang dapat membinasakan (pelakunya).” (HR Bukhari)

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Bilal bin Saad rahimahullah mengatakan,

لا تنظُرْ إلى صِغَرِ الخطيئةِ، ولكن انظُرْ مَن عصَيْتَ

“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” (@fen/sumber: khotbahjumat.com) **



Rabu, 26 Agustus 2020

TAUSIAH: Muslim Dilarang Membuka Aib Saudaranya.

Gibah (hanya ilustrasi)./io9.com/via republika.co.id.

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com -  Suatu hari Rasulullah saw. naik ke atas mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi, "Janganlah kalian menyakiti kaum muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar)

Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitabnya Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul  mengungkapkan, di zaman sekarang ini sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya dalam menjaga rahasia. Kebanyakan manusia-kecuali manusia yang mendapat pertolongan Allah-tak dapat menjaga rahasia orang lain. Padahal, membuka aib orang lain termasuk bagian dari khianat.

Dalam hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk keutamaan. Nabi saw menganjurkan umatnya agar senantiasa saling memelihara rahasia dan menutupi aib saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam ketenangan, kedamaian, juah dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.

Namun, kita sering melalaikan peringatan ini. Kita kerap  bermain-main dengan aib. Kita lupa kalau suatu saat Allah SWT pun akan membukakan aib kita tanpa bisa ditolak. Sesungguhnya, ketika membuka aib orang lain, sama dengan memberitahukan aib kita sendiri.

Padahal, dengan menutup aib orang lain, Allah akan menutup aib kita, baik di dunia maupun akhirat. Rasulullah bersabda, 

"Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia, melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya".

Aib merupakan sesuatu yang diasosiasikan buruk, tidak terpuji, dan negatif. Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya. Manusia harus berintrospeksi dan menghisab diri sendiri untuk memperbaikinya. Umar bin Khattab berpesan, 

"Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang."

Dalam hidup, kita terkadang terlupakan dengan aib-aib sendiri yang begitu menggunung karena begitu seringnya memikirkan  aib orang lain. Kita juga sering lupa untuk bersyukur bahwa Allah telah menjaga aib-aib kita. Sesungguhnya, manusia bukanlah apa-apa jika semua aibnya dibukakan di depan mata orang lain. (@fen/republika.co.id) **

Kamis, 20 Agustus 2020

Khutbah Jumat: Refleksi Tahun Baru Islam 1442 Hijriah


Oleh Ustaz Sukron Ma'mun 

MAASYIRAL muslimin rahimakumullah, bulan Zulhijah adalah bulan terakhir dalam sistem penanggalan Hijriah atau bulan kedua belas. Kita telah memasuki bulan baru dan tahun baru Hijriah, yakni bulan Muharram 1442 H. Oleh karenanya tidak ada salahnya kita terus melakukan muhasabah, yakni menghitung kedirian kita atau introspeksi atas apa yang kita lakukan selama satu tahun sehingga dapat menjadi pijakan kita dalam melangkah di tahun-tahun berikutnya. 
 
Dalam rangka hal tersebut, kiranya pantas kita mengingat kembali pesan Sayyidina Ali karramallahu wajhah, sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul Ibad karya Ibnu Hajar al-Asqalani:
 
كُنْ عِنْدَ اللهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلاً مِنَ النَّاسِ
 
“Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah, dan jadilah manusia yang paling jelek dalam pandangan dirimu, serta jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”
 
Jamaah Jumat rahimakumullah, pesan ini memberikan arahan yang sangat luar biasa bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia, demi memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Pertama, kita diharapkan terus meningkatkan ketakwaan dan amal kebaikan di hadapan Allah subhanahu wata‘ala. Menjalankan perintah-Nya dan sedapat mungkin menjauhi apa yang menjadi pantangan atau larangan dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang baik di sisi-Nya.  
 
 Kedua, kita harus merasa kurang atas amal kebaikan yang kita lakukan dengan terus merasa diri kita jelek. Hal ini bukan berarti merendahkan diri, namun untuk menjauhkan kita dari sikap ujub (sombong), riya (pamer), dan sum’ah (mengharap pujian orang lain). 
 
Ketiga, kita harus menundukkan diri di hadapan orang lain dengan tidak merasa lebih baik. Mungkin banyak di antara kita ketika melihat orang lain, merasa dirinya lebih baik atau lebih mulia. 
 
Maasyiral muslimin rakhimakumullah, Lantas bagaimana kita mampu mendorong diri kita untuk terus berbuat kebaikan tersebut? Syekh Abdul Qadir al-Jailani memiliki tips sederhana yang dapat kita lakukan dalam keseharian kita. 

Pertama, jika kita melihat orang lain hendaknya kita memandangnya bahwa dia memiliki kelebihan daripada diri kita sendiri, mungkin dia lebih bertakwa, lebih banyak amal kebajikannya, lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah subhanahu wata‘ala. 
 
Kedua, jika kita melihat anak kecil atau lebih muda, jangan kita merasa lebih baik darinya. Katakanlah, 

“Mungkin dia dosanya lebih sedikit daripada diriku, karena umurnya lebih sedikit dariku.” Sebaliknya jika kita melihat orang lebih tua, hendaknya kita melihat bahwa dia telah berbuat kebaikan lebih banyak dari diri kita. 
 
Ketiga, jika kita melihat orang alim, orang yang memiliki ilmu, hendaknya kita menilainya dia memiliki cara yang baik dan benar mengamalkan pengetahuannya dan telah berbuat kebaikan dengan ilmunya tersebut. Sebaliknya jika kita melihat orang bodoh, hendaknya kita katakan, 

“Mungkin dia berbuat dosa atau salah akibat ketidaktahuannya, sementara kita lebih berdosa karena berbuat salah pengetahuan pengetahuan yang kita miliki.” 

Orang bodoh berbuat salah bisa jadi karena ketidaktahuannya, sementara orang alim (memiliki pengetahuan) berbuat dosa bukan karena tidak tahu. 

Ilustrasi sederhana yang mungkin dapat kita pakai, siapakah yang bisa berbuat korupsi? Tentu ia yang memiliki akses, pengetahuan bagaimana mengambil dan memanfaatkan uang tersebut untuk dirinya atau golongannya. Bukan orang yang tidak memiliki pengetahuan bagaimana menyelewengkan uang negara.  
 
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Instrospeksi diri bukan hanya dilakukan sekali, namun harus menjadi bagian yang tertanam dalam kehidupan kita sehari-hari. Muhasabah adalah cara mengendalikan hidup kita, yang akan memiliki efek luar biasa pada diri kita, keluarga, dan lebih luas lagi pada masyarakat. Keteledoran kita untuk melakukan introspeksi bukan hanya dapat mengakibatkan kerusakan pada kehidupan kita, tetapi juga kehidupan yang lebih luas yakni keluarga dan masyarakat.  Rasulullah saw. bersabda:
 
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ (رواه أحمد) 
 
“Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah.” (HR Ahmad)
 
Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mampu terus introspeksi dan berbenah diri sehingga kita mampu menjadi penyokong tumbuhnya keluarga dan masyarakat yang baik menuju baldatunn thayyibatunn warabbun ghafuur. (@fen/sumber: portal jember dari laman resmi nu online) **
 


Selasa, 18 Agustus 2020

TAUSIAH: 3 Perilaku yang Sangat Dibenci Rasulullah

 

Kaligrafi Rasulullah Muhammad saw.  Ilustrasi./republika.co.id/ist.

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com -    

إنَّ أحبَّكم إليَّ وأقربَكم منِّي في الآخرةِ محاسِنُكم أخلاقًا وإنَّ أبغضَكم إليَّ وأبعدَكم منِّي في الآخرةِ أسوَؤُكم أخلاقًا الثَّرثارون المُتفيهِقون المتشدِّقون

Dalam kitab Riyadhush-Shalihin, Imam an-Nawawi menukil sebuah hadis yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Jabir r.a.. Pada suatu kesempatan, Nabi saw. berkumpul dengan sahabatnya, lalu memberi petuah yang menggetarkan hati. 

"Sesungguhnya, yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan, sungguh yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh duduknya denganku pada hari kiamat adalah al-tsatsaruun dan al-mutasyaddiquun serta al-mutafaihiquun,"  Rasulullah saw bersabda. 

Lalu para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, kami mengerti al-tsartsaruun dan al-mutasyaddiquun. Tapi, siapakah al-mutafaihiquun itu?" 

Beliau saw. menjawab, "Al-mutakabbiruun."   

Melalui hadis ini, Nabi saw. hendak mengingatkan umatnya soal tiga perkara yang paling dibencinya karena termasuk akhlak al-madzmumah (perilaku buruk), yakni:

Pertama, al-tsartsaruun (orang yang banyak celoteh dan suka membual). Golongan pertama yang dibenci Nabi saw. adalah pembual atau pendusta yang banyak cakap dan lagunya serta pandai pula bersilat lidah. Kadang, ucapannya disertai argumentasi logis dan yuridis, namun mengandung kebohongan dan tipuan. Kalau bicara seenaknya, kurang menjaga adab dan menyela pembicaraan. 

Nabi saw. berpesan, فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ "Katakanlah yang baik atau diam." (HR Bukhari). Jangan percaya kepada orang yang banyak cakap, tapi minim amal atau tidak sesuai dengan lakunya: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”  (QS (61): 2-3).

Kedua, al-mutasyaddiquun (orang yang suka bicara berlebihan kepada orang lain). Golongan kedua yang dibenci Nabi saw. adalah orang  berlagak fasih dengan tata bahasa yang menakjubkan. Jika bicara, bumbunya berlebihan hingga tak sesuai kenyataan. Lihai dalam bertutur kata, tapi hanya ingin dapat pujian. Tidak jarang pula, bahasanya indah, namun berbisa (menghinakan). Ia pun susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.

Dalam diri manusia ada hati (wadah), akal (pengendali), dan hawa nafsu (keinginan). Jika hati kotor, yang keluar dari lisan pun kotor. Jika baik, yang keluar dari ucapan juga baik: 

 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”  (QS (91): 8-10).             

Ketiga, al-mutafaihiquun (orang yang suka membesarkan diri). Golongan ketiga yang sangat dibenci Nabi saw. yakni orang sombong atau angkuh. Kesombongan pertama adalah ketika iblis menolak sujud kepada Nabi Adam a.s., lalu ia pun dikeluarkan dari surga (QS (5): 29-35). 

Fir'aun yang mengaku Tuhan (QS (79): 23-25,(28): 38), akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah. Qarun yang pongah karena harta kekayaannya (QS (28):76-82), dilenyapkan ke perut bumi. Raja Namrudz yang menyetarakan diri dengan Allah SWT, justru dimatikan seekor nyamuk:     

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: 'Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,' orang itu berkata: 'Saya dapat menghidupkan dan mematikan'. Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,' lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS (2):258). (@fen/sumber: republika.co.id ) **

Senin, 17 Agustus 2020

Tausiah: Hindari Lima Bentuk Kedurhakaan kepada Orangtua.

Ilustrasi berbakti orangtua./republika.co.id/ist.

BAIT-buat-dakwah.blogspot.com - Islam melarang keras segala bentuk kedurhakaan seorang anak kepada orangtuanya. Bahkan, Islam memasukkannya ke dalam dosa-dosa besar yang mengiringi syirik.

Durhaka kepada kedua orangtua ('uququl walidain) artinya ialah tidak menaatinya, memutuskan hubungan dengan keduanya, dan tidak berbuat baik kepada keduanya (Lisanul 'Arab, karya Ibnul- Manzhur). 

Meskipun disebut walidain (kedua orangtua), tetapi durhaka kepada salah seorang di antaranya (ayah atau ibu) tetap tergolong pada anak durhaka. Dalam hadis, ditemukan beberapa penjelasan tentang bentuk-bentuk 'uququl walidain, di antaranya:

Pertama, mengucapkan perkataan atau melakukan perbuatan yang menyebabkan orangtua bersedih hati, apalagi sampai menangis. 

بكاء الوالدين من العقوق

Abdullah bin Umar berkata, "Membuat tangisnya kedua orangtua adalah termasuk durhaka kepadanya." (HR Bukhari). 

Tangisan orangtua itu disebabkan tersinggung atau sakitnya hati mereka terhadap perkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh anaknya. Berbeda halnya ketika mereka meneteskan air mata karena terharu atau bangga, tentu tidak termasuk bentuk kedurhakaan. 

Kedua, melaknat kedua orangtua. Rasul saw. bersabda:   ولعَن اللهُ مَنْ لعَن والديهِ "... Allah melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya." 

Seorang anak yang berani mengeluarkan kata-kata cacian atau mendoakan kejelekan kepada kedua orangtuanya, maka Allah akan melaknatnya. Laknat Allah akan membuat hidupnya jauh dari petunjuk-Nya sehingga ia diliputi oleh kegelapan dan kesusahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Ketiga, mencela orangtua, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sabdanya:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ: «يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أَمَّهُ

"Termasuk dosa besar, (yaitu) seseorang mencela dua orangtuanya." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, adakah orang yang mencela dua orangtuanya?" Beliau saw. menjawab, "Ya, seseorang mencela bapak orang lain, lalu orang lain itu mencela bapaknya. Seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang lain itu mencela ibunya." (HR al-Bukhari-Muslim).

Keempat, melakukan perbuatan buruk yang membuat orangtuanya marah. Nabi saw. bersabda: 

مَن أصْبحَ مُطيعًا لله في والِدَيه أصْبحَ له بابانِ مَفتوحانِ مِن الجنَّة، وإنْ أمسى فمِثْل ذلك، ومَن أصْبحَ عاصيًا لله في والِدَيه أصْبحَ له بابانِ مَفتوحانِ إلى النَّار، وإنْ أمْسى فمِثْل ذلك، وإنْ كان واحدًا فواحدٌ، قال رجل: وإنْ ظَلَماه؟ قال: وإنْ ظَلَماه، وإنْ ظَلَماه، وإنْ ظَلَماه

"... Dan, barangsiapa pagi-pagi membuat marah kedua orangtuanya, maka baginya dua pintu yang terbuka menuju neraka, dan jika ia sore-sore berbuat demikian, maka baginya seperti itu dan kalau orangtua seorang maka ia mendapatkan satu pintu meskipun keduanya menganiaya, meskipun keduanya menganiaya, meskipun keduanya menganiaya." (HR Baihaqi).

Hadis ini menjelaskan bahwa seorang anak tidak boleh melakukan hal-hal buruk yang mengundang kemarahan orangtuanya. Setiap orangtua yang baik tentu akan marah jika anaknya melakukan perbuatan buruk, apalagi buruk dalam pandangan agama, seperti berbuat zina, meminum minuman keras, berjudi, dan sebagainya.

Kelima, lebih mementingkan istri daripada orangtua. Jika seorang anak lebih mementingkan istrinya dari pada orangtua, lalu orangtua tersinggung dengan perlakuan itu, maka ia termasuk anak durhaka.

Hal ini dapat dilihat dari kisah Alqamah. Menjelang wafat, ia mengalami kesulitan mengucapkan syahadat saat sakaratul maut, padahal Alqamah adalah ahli ibadah. Ternyata ibunya tidak rida kepada Alqamah karena ia pernah lebih mementingkan istri daripada ibunya. Karena tidak dimaafkan, Rasul memerintahkan Bilal untuk membakar Alqamah maka hati si ibu pun iba dan tak rela anaknya dibakar di hadapannya. Sang ibu pun rida dan memaafkan Alqamah. @fen/sumber: republika.co.id